Wednesday, April 22, 2015

Bahagia Sempurna

Setiap kali memandang kereta berjalan, aku selalu teringat kita pernah bersama dalam satu gerbong - duduk berdekatan. Selama perjalanan, kau isi dengan cerita nostalgia. Aku tak begitu menyimak ceritamu dikarenakan keasyikanku menatap wajahmu yang teduh. Wajah yang belasan tahun lalu kerap menemani hari-hariku. Wajah yang selalu mengingatkan bahwa kerja keras dengan penuh kesungguhan akan menghasilkan buah yang nikmat. Wajah yang banyak mengajarkanku banyak hal. Wajah yang ingin kumiliki, namun tak mampu kuusahakan. Banyak hal yang membuatku tak mewujudkan mimpi sebagai pendampingmu. Terutama, aku tak ingin melihatmu tak 'sempurna' dikarenakan sikapku yang sangat labil saat itu.

Dalam kedekatan kali ini, aku merasa bahagia saat menatap wajahmu yang  penuh makna dan sarat akan cahaya. Cahaya yang terpancar karena kehidupan penuh suka cita. Aku sungguh bahagia. Keputusanku tuk tak memilikimu tak kusesali.... Aku bukanlah bidadarimu. Dan, kau tak akan sebahagia ini bila bersamaku.

Tatapanku masih lekat pada wajah sederhana nan memikat. Senti demi senti kucermati wajahmu tanpa kedip seolah tak ingin ada info yang terbaca yang kulewati hingga pandangan kita bertemu. Terpergok mencuri pandang olehmu membuatku tersipu malu dan menunduk dalam sembari memainkan jemari mungilku.

"Kok...kamu terlihat sangat kurus dibandingkan saat kita bertemu beberapa tahun silam?"

Aku terperanjat. Rasanya saat bercermin sore tadi, aku telah meyakinkan diriku bahwa baju yang membalut tubuhku mampu menyembunyikan bobot yang sebenarnya. Namun, kenyataannya dirimu mampu melihat perubahan fisikku.

"Kamu sakit ya?" - tanyamu lagi tanpa menunggu jawabanku untuk pertanyaan sebelumnya.

Aku menggangguk tertunduk.

"Sudahlah.... Tak perlu dibahas!!!"

Lama terdiam. Sunyi. Tak ada jawaban tanda setuju atau penolakan atas permintaanku. Beberapa kali kudengar helaan nafas dengan tarikan yang sungguh dalam. Dan, aku tak dapat menafsirkannya.

Berlama dalam suasana kaku, tiba-tiba ada rasa tak nyaman menyeruak dan memeluk erat. Aku gelisah. Keringat dinginku mengucur deras dalam kondisi gerbong ber-AC. Melalui ekor mataku terlihat dirimu menyibukkan diri bermesraan dengan handphone tanpa memedulikan diriku.

Beberapa jenak kemudian, kualihkan perhatian dengan melempar pandangan ke luar jendela kereta. Sederet kebun jati terhampar tak lagi indah. Tak lagi dapat menginspirasi diriku seperti sebelumnya. Aku sungguh gelisah mencari cara tuk menetralisir kondisi kaku yang tercipta tanpa sengaja. Dan tanpa kusadari mata terpejam menghalau gelisah. Saat nyenyak hendak menghampiriku, suara tanda pesan singkat masuk di hanphoneku dan mengejutkanku. Secepat kilat kurogoh saku celana dan membaca pesat singkat yang tak lain berasal darimu. 

"Sejak lama kuingin haturkan rasa suka ini dengan bahasa sederhana sesederhana dirimu. Namun, aku tak mampu merusak bahagiamu bersamanya. Maafkan bila ini tak berkenan."

Tenggorokanku tercekat. Pesan itu begitu jelas menggambarkan lukamu. Luka dikarenakan aku yang saat itu tak meneruskan mimpi bersamamu dan memilih 'memamerkan' bahagia bersama orang lain. Terlalu banyak alasan yang tak perlu kupaparkan padamu tentang semua ini. Aku memilih tetap melihat 'kesempurnaanmu' tanpa perlu merusaknya dengan cara memilikimu.

Saat tanganku menyentuh lenganmu dengan hati-hati, kudengar lirih suaramu penuh rasa duka.

"Mengapa tak memilihku?"

Aku memilih diam dua tiga jenak tak menjawab tanya hingga matamu menatap tajam meminta jawab. 

"Aku terlalu menyayangimu. Kurasa kau pun tahu sikapku yang suka mengatur dirimu menjadi seperti yang kuinginkan. Dan, saat aku menyadari hal tersebut aku memilih melupakan keinginanku tuk memilikimu. Aku ingin melihatmu bahagia."

Aku menunduk dalam saat menjawab tanya, tak kuasa menatap mata yang dulu sangat ingin kumiliki.  Air duka tanpa kupinta merambah pipiku yang tak mulus. Segera kuhapus sebelum terlihat olehmu. Kutak ingin kau melihatku sedih. Kuingin kau tahu aku menyayangimu dengan sungguh dan memilih cara ini tuk tetap melihat cahaya bahagia terpancar di wajah sederhanamu yang selalu memikatku.

Beberapa jenak kemudian tanpa kuduga, kau meraih tanganku dan menggenggam erat. Hangat terasa menjalar di sekujur tubuhku. Genggamanmu semakin erat seolah kau ingin menolak nyata rasa yang sama tak menyatukan kita. 

Sekonyong-konyong, aku menarik kasar tanganku membebaskannya dari rasa nikmat yang dulu ingin kurengkuh bersamamu.

"Mengapa? Apa tak kau rasakan bahagia seperti yang kurasakan?"

Aku menatap tajam tepat di inti matanya - "Aku memilih bahagia yang sempurna.  Bahagia tanpa menyakiti kesempurnaan."

Kulihat senyummu merekah tulus sama seperti dulu kau lakukan sebagai tanda persetujuan.

Senyumku pun tak malu lagi tampil. Aku mengumbarnya berlebihan. Ada bahagia melimpah terasa nyata. Hingga suara bising kereta bak irama indah yang turut mengiringi syair bahagia sempurna yang tercipta. Bahagia inilah yang selalu menjadi mimpiku - bahagia di atas bahagia.

Saturday, April 4, 2015

Happy milad Rafif

Walau bukan untuk yang pertama kalinya, badanku tetap bergetar saat memasuki ruang operasi. Suasana begitu mencekam saat tubuh terbaring di meja operasi. Saat mata kualihkan ke samping, terlihat alat-alat dalam kondisi steril siap mengoyak-oyak perutku. Duh, rasa takut begitu menyelimuti pikiranku. Bayangan masa lalu begitu menghantui. 

"Jangan cemas, takut, bahkan stress... Yang santai ya, Bu! Tarik nafas perlahan dan bebaskan pikiran Ibu dari rasa takut."

Tim medis berusaha menenangkanku karena tekanan darahku tak kunjung turun. Obat hipertensi kuminum, dan mata kupejamkan sembari berzikir dan menyerahkan  semuanya kepada Ilahi. 

Setengah jam kemudian, kulihat persiapan operasi dimulai. Saat anestisi akan dilakukan, kupegang tangan dokter yang akan mengoperasiku dan berkata, "Dok, bila anakku lahir, tolong beritahukan kondisinya dan dekatkan wajahnya untuk memudahkanku menciumnya." Anggukan dokter berbarengan dengan jarum suntik menusuk punggungku. Sedetik kemudian, berjuta gigitan semut menjalar dari perut hingga ujung jemari kaki dan membuatku kebal tak merasakan koyakan pisau dan gunting bedah.

Zikir terus kulafazkan selama operasi berjalan, dan aku tersentak saat suara tangis meledak.  Bayi mungil laki-laki berparas tampan di gendongan dokter membuatku sangat terharu. Kucium pipi dan hidung mungilnya. Kuamati bagian tubuhnya dengan teliti dan saat kuraba kepalanya, dokter melihatku dengan wajah teduh - "Sempurna dan sehat, Bu."

Alhamdulillah, 12 tahun kehadirannya telah membuatku banyak belajar bersikap menjadi seorang ibu, sahabat dan terkadang sebagai 'musuh' bagi dirinya. Perubahan psikologisnya begitu pesat terlihat pada akhir-akhir ini. Sikap marah dan protes begitu mudah dilontarkannya padaku. Dan, hal itu sering membuatku syok. Zaman telah berubah. Anak di zaman kekinian tak lagi sama dengan di zamanku. Semua serba terbuka dan standar kesopanan pun berubah. Perubahan itu harus kuterima dan melihatnya dari kaca mata positif.

Kini, anakku telah remaja, dia begitu terbuka mengemukakan apa yang dirasakan dan yang diinginkannya. Walau, kerap tangisku mengiringi sikap 'vulgar' tersebut, tapi jauh di lubuk hati selalu mendoakannya kelak menjadi anak yang berprinsip, tangguh dan shaleh. Toh, kekuatan doa tak ada yang dapat memungkirinya. Dengan ikhtiar dan doa meminta bantuanNya tak akan ada yang mustahil.

("Nak...mama tetap berdoa moga cita-citamu menjadi imam mesjid kan terwujud, walau saat ini usahamu menuju ke arah tersebut tak terlihat.")

Met milad sayang, We luv u.

Saturday, February 21, 2015

Ratap Rindu

Pagi belum beranjak terganti siang.
Rindu pada kekasih dan buah hati tak terbendung lagi. Handphone kuraih dan menekan nomer kontak yang sangat kuhapal. Tut...tut...tut... Hanya suara itu saja yang terdengar hingga tergantikan suara operator dengan sangat santun mengucap terima kasih. "Ah... kemanakah kalian semua?" - kuhempaskan tubuh di kasur tipis jauh dari empuk sembari meratap tertahan. Bulir-bulir rindu berjatuhan. Aku begitu ingin mendengar 'suara-suara' pelita hidupku....bahkan terlalu menginginkannya. Ratap masih berlangsung hingga sadar menghampiriku. Sadar yang membawaku menjelajahi arti kebersamaan, perpisahan dan rindu. Dan diantara kata-kata tersebut ada perekat yang bernama kasih atau cinta. Bila tak ada kasih atau cinta dalam kebersamaan maka pada perpisahan tak kan ada  rindu yang tercipta. Rindu adalah luapan kasih atau cinta yang tak tersalurkan. Sampai pada sadar yang mendasar, aku pun bersimpuh dan melapaz: "astagfirullah."

Aku belum merasakan 'ratap rindu' padaNya. Apakah itu artinya kebersamaanku padaNya belum berlandaskan kasih atau cinta? Kebersamaan yang hanya dapat dikategorikan 'basa-basi'? Hanya melaksanakan  'wajib lapor' lima waktu?

Pada saat bersamaNya, aku tak memiliki waktu yang panjang  untuk 'bermanjaan' atau pun 'curhat'.  Waktu yang kuberikan untukNya sangat sedikiiitttt sekali bila dibandingkan berselancar bersama dengan para iblis buatan manusia. Aku benar-benar nista. Kenistaan seorang hamba yang begitu lalai dalam 'menjalin kebersamaan' dengan Penciptanya yang Maha Rahman dan Rahim.

Simpuhku dalam doa dengan penuh harap 'terjawabkan' :
"Ya Rabb, ampuni hambaMu ini. Berikan aku kesempatan untuk dapat menikmati 'ratap rindu' padaMu, sebelum roh yang Engkau titip padaku, Engkau ambil kembali....Berikan aku rasakan cintaMu dengan suka cita yang sangat mendalam ......suka cita akan rindu yang berbalas......aamiin."

(Jogja, 22 Februari 2015)

Wednesday, February 18, 2015

Harmonisasi

Dini hari jauh sebelum waktu subuh, kutelisik wajah di hadapanku yang sedang terlelap dibuai mimpi – senti demi senti seolah ingin menyelidik. Kutemukan guratan halus di bawah mata dalam gelapnya malam. Guratan ketulusan. Guratan yang selalu siaga menyinar semangat bak ‘power bank’ yang selalu siap mengalirkan daya bila sumber energi melemah.

Perlahan kusentuh wajah lelaki yang telah kupilih menjadi imamku empat belas tahun yang lalu. Rasa hangat menjalar liar merasuk jiwa. Tanpa bermaksud memutus mimpi, kubaringkan tubuh dengan suara berbisik. Namun saat ingin mendekap kehangatan, teriakan anak perempuanku terdengar dari kamar sebelah membuyarkan romantisme yang mulai kubangun.

Tergesa bangkit dari pembaringan dan melangkahkan kaki tanpa memedulikan suami yang terbangun karena kegaduhan yang kubuat. Anak perempuanku terduduk menangis tanpa henti memanggil dan mencariku. “Mama… Mama… Mama… di mana?” Segera kupeluk tubuh mungilnya dan mengusap rambut, menenangkannya. Setelah tangis terhenti saya pun mulai meninabobokannya dengan melafazkan beberapa surah pendek Al-quran sambil menggaruk punggungnya. Hanya butuh waktu beberapa menit anakku pun terlelap. Dan kini hanya saya seorang diri menikmati malam tanpa kantuk.

Dalam kesendirian, tanpa sengaja kubuka ikon album foto di telepon genggamku. Kucermati satu persatu foto yang ada. Tiba-tiba ... saya termangu saat melihat fotoku yang bersanding dengan suami. Masih lekat dalam ingatan foto itu diambil saat adik bungsuku menikah. Dan pada saat itu juga saya sedang hamil anak pertama. Foto itu pun membawaku kepada kenangan belasan tahun silam. Kenangan di mana cinta dan perhatianku masih terfokus pada kekasih dan calon bayiku. Cinta yang begitu mendalam dan belum terbagi.

Namun saat ini, cinta dan perhatianku harus terbagi menjadi beberapa bagian: anak, suami, keluarga dan pekerjaan. Terkadang kalut kurasa di saat dihadapkan pada prioritas. Semua bagian kerap meminta cinta dan perhatian di waktu yang bersamaan dengan kadar yang hampir sama pula. Protes pun acap kulontarkan pada diri sendiri bila tak dapat lagi berbuat bijak. “Apakah saya tidak punya hak untuk mendapatkan cinta dan perhatian yang sama untuk diriku sendiri?” Lagi-lagi egoisme menyerang dan merusak nilai pengabdianku. Pengabdian seorang wanita dalam mencari makna dan keberkahan hidup.

Seperti halnya semalam, dan malam-malam sebelumnya, kuingin berbagi cinta dan kasih dengan adil kepada suami, anak-anak, dan pekerjaan. Namun saya selalu tidak dapat melakukannya dan prioritasku selalu jatuh pada anak-anak dan pekerjaan. Walau demikian, bukan berarti membahagiakan suami tidaklah penting. Saling memahami, itulah solusi yang kerap kami bahas dalam menjaga harmonisasi dan kelanggengan cinta.

Hanya satu yang membuatku selamat, imamku sangat penuh pengertian. Dia tak banyak menuntut. Dia seakan tahu akan posisiku yang terjepit. Hanya saja, ada ragu menyelip di sela hatiku yang terancam sobek. Saya takut kehilangan rasa. Sangat takut kehilangan cinta. Sungguh ... saya takut. Saya tak mampu membayangkan ketegaran yang kumiliki tanpa suamiku berdiri di sisiku sebagai tiang. Dan di tiang itulah, saya dan anak-anak bergantung. Hal yang tak bisa kupungkiri!

(Jogja, 18 Februari 2013)

Tuesday, February 17, 2015

Hikmah Percakapan

Anak perempuanku mengajukan protes saat saya selesai membaca dongeng pengantar tidur dua edisi terakhir kisahku. “Mama, ceritanya kok cinta terus, sih. Iiiih … Mama pacaran terus dengan Ayah.” Sungguh polos dan lugu. Saya membelai rambut dan membalikkan badannya untuk memulai ritual menggaruk punggungnya. “Besok, Mama berkisah tentangmu,” hiburku. Eh … tidak kusangka anak lelaki yang kuduga telah terlelap memelukku dari belakang dan berkata, ”Mama akan selalu bersama Ayah, kan? Pun Kutukas dengan memandang wajah suci itu dengan lembut, ”Tentu Sayang. Kami akan selalu bersama merawat dan mendidik kalian, Insya Allah.”

Sembari memeluk kedua buah hatiku yang terlelap nyenyak, saya berusaha memetik makna pelajaran kehidupan yang kuperoleh melalui percakapan singkatku dengan anak-anak. Pelajaran yang tidak boleh kuanggap sepele. Pelajaran yang sangat membantuku dalam berproses menjadi seorang ibu, istri, dan sahabat. Dan…..saya pun sungguh takut bila tidak dapat mengambil hikmah, yang kuyakini merupakan tuntunan Ilahi.

Dalam perenungan, kusadari anak-anak mulai beranjak dewasa, tidak seperti yang kuduga. Mereka sudah mulai mereka-reka arti sebuah hubungan antara wanita dan laki-laki dewasa dengan konteks ‘pacaran’. Hubungan yang mereka resapi dari pengamatan sehari-hari atas romantisme yang terjadi antara ayah dan ibunya. Dan saya sebagai seorang ibu sangat merasa diuntungkan atas persepsi seperti itu. Penggambaran ‘pacaran’ yang terekam dalam otak mereka harus kupertahankan. Setidaknya untuk lebih memudahkan bagi kami sebagai orangtua dalam membendung pengaruh negatif lingkungan dan media massa yang mengumbar pacaran begitu vulgar.

Memang tidaklah mudah bagi orangtua untuk menjelaskan ‘sex education’ pada anak-anak terlebih di usia kanak. Penjelasan secara teoritis tidak akan membuat mereka paham. Penjelasan secara vulgar akan membuat otak mereka merekam sisi negatif. Dan untuk anak-anakku, saya memutuskan untuk menjelaskan hal tersebut dengan pemberian contoh harmonisasi hubunganku dan ayah mereka – suatu contoh harmonisasi hubungan yang berlandaskan pada cinta dan keimanan.

Masih kuteruskan renungan walau kantuk mulai menggodaku. Saya terusik dengan pertanyaan anak lelakiku yang seolah meragukan kelanggengan kebersamaanku dan ayahnya. Tentu tidak akan ada pertanyaan bernada khawatir seperti itu bila tidak ada fakta yang menjadi pengalamannya. Tak kupungkiri, di saat lelah mendera atau di saat egois mendominasi, saya sering labil. Dan di saat seperti itulah anak-anak kusajikan tayangan ketidakharmonisan suatu hubungan. Tayangan yang terekam di otak anakku itulah yang merangsang kekhawatiran.

Penyesalan memang selalu di akhir. Namun perbaikan selalu berproses. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari dan memperbaiki suatu kesalahan. Pun, saya mulai paham akan hikmah dari percakapan. Hikmah yang mengantarku untuk berusaha mengaransemen kembali lagu harmonisasi hubungan dan keseimbangan emosi dalam keluarga kecilku. Dan aku bertekad mulai belajar memahami suami dan anak-anak, karena dengan cara itulah Ilahi menuntunku menghasilkan lagu terindah yang akan menemani kebahagiaan kami.

Amboi … betapa indahnya hikmah yang kudapat. Dengkuran halus kedua anakku pun seolah mengiyakan hasil kontemplasiku. Dengkuran terindah yang pernah kudengar. Dan tanpa terasa, saya mendengkur pula di dada suami.

(Jogja, 19 Februari 2013)

Sahabat

Suatu malam yang 'riuh' berirama dengkur orang-orang terkasih, aku 'terlilit' sepi. Ada yang terasa kurang di dalam hidupku. Hal ini membuatku gelisah mencari jawab. Aku punya keluarga, punya pekerjaan, hidup pun tidak sengsara. Apa lagi yang tak kumiliki hingga hidupku sering 'kesepian'?

Jawaban kucoba cari dengan berdiskusi dengan guru menulisku melalui obrolan di media sosial. Tanpa kuduga dengan waktu yang singkat, dia bisa menyimpulkan bahwa aku tak punya teman dengan kategori sahabat.

"Kalau kamu tak pernah percaya dengan persahabatan, maka bersiaplah hidup  sunyi di hari tuamu."

Aku tercengang mendapat jawaban seperti itu. Kupikir-kupikir dengan cermat, apa iya aku tak punya sahabat?  Temanku banyak, ....tapi..... rasanya aku tak punya seorang 'sahabat'. Loh, sahabat itu apa sih?

"Sahabat itu adalah orang yang memahami 'jiwa' mu, mampu mengisi 'kekuranganmu' dan dia ibarat pakaian, mampu melindungimu dari 'panas' dan 'dingin'."

"Suami adalah sahabatku," jawabku dengan pasti untuk memungkiri dugaannya.

"Memang benar pasangan kita adalah sahabat sejati, namun kamu membutuhkan sahabat di luar lingkup keluarga."

Kini, dalam kesendirian aku mengenang semuanya. Dan, sepi masih kurasa. Sepertinya aku harus mulai mencari sahabat. Tetapi, apakah di kekinian masih ada yang namanya 'sahabat'? Yang kutahu di kekinian sahabat dalam arti 'kepentingan'. Bukan seperti yang kau katakan guru. Bukan sahabat seperti yang kau miliki hingga akhir hayatmu.

Duh, sepi membuatku berkhayal hidup dengan banyak sahabat dalam arti sesungguhnya. Bukan seperti sahabat si A yang sangat menjijikkan, memakan sahabat sendiri demi 'kepentingan'.  Sahabat yang akan menuai akibat dari perbuatannya sendiri. (Duh, kok melenceng nih cerita...ups sorry).

Apapun yang kuperoleh hari ini tak pernah bosan kuberharap : "Semoga suatu hari sang sahabat menghampiri dan mampu mengisi kekekuranganku dengan ikhlas hingga hidup terasa 'riuh', aamiin."


#merindu#

(Jogja, 6 Februari 2015)

Olshop bakulan

Awalnya dari iseng akhirnya menjadi serius, dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu sedikit tentang bisnis online. Banyak teman dumay (dunia maya) yang dengan senang hati berbagi ilmu bahkan ada yang mengirimi ebook ke emailku. Mereka begitu 'membuka tangan' menerimaku sebagai 'murid' dan 'partner'. Aku menikmati rencana Allah ini. Kujalani hingga berganti rencanaNya yang lain untukku.

Banyak hal yang kuperoleh dari secuil pengalaman ini. Dan satu, dua diantaranya adalah bertemu partner yang masih sangat muda dan calon pembeli 'rewel' (ups maaafff). Awalnya, aku menyangsikan partner berusia muda ini 'the owner'  big olshop. Ternyata usia tak menjamin kemampuan seseorang. Adik  berparas cantik ini ternyata sangat piawai berbisnis. Dan, hubungan kerja kami sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, kami sama-sama mau menerima kritik dan saran dari satu sama lain. Perbedaan usia yang jauh biasanya membuat 'si tua' merasa lebih jago dari 'si muda' karena 'pengalaman hidup'. Namun, itu tak terjadi pada kami. Aku tak pernah segan belajar dari 'adik' tentang sesuatu yang tak kupaham, begitu pula sebaliknya. Kami saling memahami sampai sejauh ini. Alhamdulillah.

Hal lain yang menjadi pengalamanku dalam waktu yang singkat ini adalah bisnis online bisa berlangsung bila saling percaya. Tetapi, kepercayan tak bisa dipaksakan. Seperti yang kualami tadi siang. Seorang calon pembeli meminta kepadaku untuk mengirimkannya beberapa gambar produk yang kujual. Dan, singkat cerita dia membeli beberapa produkku. Yang paling menakjubkan bagiku, dia mengirimkanku pesan yang berbunyi :

"Mbak, aku baru transfer kalau sudah lihat semua barang yang kuinginkan difoto dalam satu gambar."

Inti pesan itu, calon pembeli tak percaya pada si penjual. Dia mungkin berfikir, aku menjual barang fiktif saja yaitu foto produk. Atau bisa jadi dia berfikir di zaman serba instan ini sangatlah langka orang yang memegang amanah. Apa pun itu, aku tak kuasa memaksanya untuk percaya begitu saja padaku selain mengerjakan apa yang dia inginkan.

Yah....dengan menikmati rencana Ilahi banyak pengalaman yang kudapat. Pengalaman yang mengajarkan padaku untuk pandai 'menempatkan' diri dengan selalu berpedoman pada ajaranNya. Toh, tak ada manusia yang sempurna termasuk diriku, jadi tak perlu risau bila berhadapan dengan banyak karakter yang tak sesuai. Yakinlah, 'tangan' Ilahi akan menuntun kita menuju rencanaNya yang lebih baik daripada rencana manusia.


#ceritapengalamanbakulan


(Jogja, 7 Februari 2015)

Bercak

Manusia pada saat lahir adalah suci, itu yang kupercaya hingga kini. Dalam perjalanan hidup, manusia 'berproses'. Nah, dalam 'proses inilah ada bercak-bercak yang menodai hingga tak lagi bisa dikatakan suci. Namun, aku pun percaya, manusia dibekali hati nurani oleh Sang Penguasa. Sehingga, bila bercak ingin atau telah 'melekat' padanya, maka hati nurani pun kan beraksi. Adapun awal aksi dari hati nurani adalah sangat jelas yaitu menolak bercak. Tetapi bila manusia tak lagi mendengarkan suara hati dikarenakan menerima bercak dengan suka hati, maka........... waspadalah!!!!!! Bukan saja hati nurani yang tertutup bercak, tapi 'cahaya' pun enggan singgah menyinari wajah manusia jelita nan rupawan.

Congkak, serakah, iri hati, dengki adalah beberapa sifat bawaan manusia yang merupakan faktor pemicu 'tumbuh kembang' bercak. Saat ini, aku adalah manusia penuh bercak. Bercak yang tumbuh dan berkembang dikarenakan ketidakmampuanku mengendalikan hawa nafsu untuk memenuhi 'ambisi (-)'. Ambisi (-) yang terkadang membuatku tuli hingga tak mampu mendengar suara indah hati nurani. Ambisi (-) yang kerap membutakan mata batinku hingga tak mampu membedakan warna hitam dan putih.

Ingin kurasakan lagi menjadi bayi suci tanpa bercak. Bayi yang tak memiliki ambisi (-). Tapi apalah daya, waktu terus berjalan maju dan tak akan pernah mundur. Manusia benar adanya selalu berproses. Dan, kali ini kuberharap dengan sisa waktuku yang tak lama lagi dapat berjumpa dengan banyak manusia yang mampu menumbuhkan ambisi (+) yang mungkin masih banyak kumiliki. Ambisi (+) yang kuharap paling tidak dapat memudarkan warna bercak dan mengeluarkan sedikit cahaya. Setidaknya, dengan bercak yang memudar dan sedikit cahaya, aku menjadi manusia yang berproses ke arah yang lebih baik. Toh, selamanya aku tak akan pernah menjadi manusia suci kecuali atas ridha Sang Pencipta manusia - Allah Ya Rabb.

#harapanmanusiapendosa#

(Jogja, 17 Februari 2015)

Thursday, February 5, 2015

Bersyukur dan meminta ampun

Berhari-hari terbaring di kasur yang jauh dari kata empuk dengan ditemani 'lappy' merah butut, lumayan membosankan. Ingin rasanya beraktivitas seperti biasa untuk segera menyelesaikan tugas yang sedang kuemban. Namun, apalah kuasaku... badan terasa lemah dikarenakan sakit yang didiagnosis dokter akibat stress. Stress kah diriku? Entahlah....aku tak mampu menilai diriku sendiri.

Bercerita soal sakit, sehat, lemah, dan kuat, tiba-tiba kuteringat pada lelaki tua yang beberapa bulan lalu kujumpa di bus. Siang itu, di suatu halte pemberhentian bus 'Trans Jogja', lelaki tua yang kuperkirakan berumur di atas 80 tahunan melompat ke bus dengan sigap ...sangat cekatan (malah menolak bantuan petugas). Sosok tua itu jauh dari kata renta dan lemah. Dengan gerak cepat kupersilakan beliau duduk tepat di sampingku. Dia tersenyum sangat ramah. Sejenak dua jenak kami duduk berdampingan saling membisu. Saat aku ingin mengamati wajah tuanya, saat itu pula dia menegurku dengan ramah.

"Anak, tujuannya mau kemana?"

"Ke pasar Pak, ingin membelikan ibu baju batik."

Setelah percakapan pembukaan, aku mulai mengorek rahasia kesehatan sosok tua yang ternyata berusia 93 tahun. Wajah memang tak akan menipu bila dia sudah masuk kategori tua. Tetapi 'tampilan prima'nya membuatku terkagum-kagum. Bagaimana tidak, ayahku dengan usia 10 tahun lebih muda darinya tak seprima itu.

"Bapak dulu seorang pejuang, Nak. Bapak dari dulu hingga kini selalu menerima dengan ikhlas kehendakNya..... (hela nafas) ....Sakit, sehat, lemah, kuat adalah dari Sang Penguasa."

Aku manggut-manggut tanda paham.

"Rahasia kesehatan Bapak ada dua, Nak. Bersyukur dan meminta ampun padaNya."
(Menatap wajahku dengan cermat....terlihat wajah lebih tua dari usia hahahaha)

"Setiap saat panjatkan kata hamdallah dan istigfar. Apapun yang sedang anak alami, Insya Allah semua akan terasa sempurna."

Sosok tua itu menutup pembicaraan dengan senyum yang sangat tulus, kemudian pamit padaku untuk turun di halte berganti bus menuju kediamannya. Kuamati punggungnya yang kokoh. Tanpa sadar kulapazkan kedua kata yang dia sarankan dalam hati (tanpa sadar air mata pun menitik).

"Astagfirullah, alhamdulillah Ya Rabb, Engkau telah beri aku kesempatan bertemu dengan lelaki tua itu. Melalui dirinya Engkau ingatkan aku akan begitu banyak nikmatMu yang kuingkari....Melalui dirinya Engkau ingatkan aku untuk selalu bersyukur padaMU."

Sekonyong-konyong lamunanku buyar dengan bunyi ketukan di pintu kamar kostku.

Tok ..tok...tok...tok.....

"Mbak... buka pintunya.... Ibu bawa makanan dan teh hangat untukmu."

Masya Allah, benar kata lelaki tua itu hidup akan terasa sempurna dengan selalu bersyukur dan meminta ampun padaNya. Buktinya...dengan terbaring lemah di tempat tidur, rezekiNya menghampiriku melalui tangan ibu kost. Alhamdulillah.

Sakit, sehat, kuat dan lemah memang benar datang dariNya. Jadi sangatlah tak patut bila kita sesumbar atau mengeluh berlebihan. Toh, raga dan jiwa ini milikNya, dan hanya dengan ikhtiar dan keikhlasan menerima semua karuniaNya hidup kan terasa indah sempurna. Insya Allah.


#‎menasehatidirisendiri‬#

(Jogja, 5 Februari 2015)

Tuesday, February 3, 2015

Fantasi

Terkadang sesorang ingin menjadi orang lain dengan cara 'berfantasi'. Namun, tidak semua orang paham di kala 'fase fantasi' berlangsung sosok diri telah ditanggalkan berganti menjadi sosok yang baru. Dan, orang seperti inilah yang sangat sulit berfantasi, karena selalu menjadi dirinya yang 'asli' lengkap dengan atributnya.




Ini cerita apa sih? 'Berfantasi maksudnya apa? Tujuannya apa? Entahlah... saya juga bingung. Saya pribadi sering berfantasi menjadi orang super pintar, sukses dan  kaya raya. Kenapa berfantasi? Jujur, saat jenuh tumpah ruah, saya ingin menjadi orang lain... yah ..menikmati kepuasan semu menjadi pribadi yang beda. 

Seandainya pintar...mungkin kuliahku sudah lama rampung.... 

Seandainya sukses dan kaya raya...mungkin impian ayahku memiliki sekolah gratis yang super mewah dapat kuwujudkan. Intinya dengan fantasi, hidup serasa sangaaaaatttt mudah dan semua keinginan terwujud......

Seandainya..... seandainya......

Berandai-andai memang nikmat...bahkan sangat nikmat (kerap ada yg sakau), tetapi tak lantas tenggelam dalam kalimat 'I wish bla bla bla' saja kan.....

Hidup adalah sebuah realita kawan. Jadi berandai-andai jangan menjadi rutinitas ya.... entar hidup dalam mimpi lho! Yo wis.. tetap semangat!!!!!!! Merdeka!

(Jogja, 1 Februari 2015)

Rindu

Seandainya dirimu masih 'nyata', mungkin namaku masuk dalam daftar blokir pertemanan denganmu di dunia maya.

Masih teringat kata-katamu saat itu: "Kudelete namamu kalau jualan di dindingku!" Kutahu posting bakulan sering mengganggu kenyamanan seseorang yang berselancar di dunia maya terutama yang berkaitan dengan 'mata dan kantong' (tak ada penjelasan detail). Tetapi alasanmu (melarang) yang sebenarnya apa? Setahuku, dirimu hobi berbelanja. Setahuku, dirimu royal membelanjakan penghasilanmu untuk membahagiakan orang-orang terkasih. Seharusnya dengan bakulan yang hilir mudik di dindingmu dapat memudahkanmu berbelanja. Tak harus meninggalkan pekerjaan menulis yang sangat kau cintai. Ah... andai dirimu 'nyata' kuingin menggodamu dengan bakulanku. Tapi, apa aku seberani itu? Entahlah, yang pasti kurindu 'omelanmu', nasihatmu, supportmu dan masih banyak yang lainnya...

Dari dunia nyata ini, kumohon jangan delete namaku karena aku sangat mengasihimu. Kuakui, bakulan adalah 'mainan baru', namun itu tak berarti aku tak merindukan 'rutinitas' yang dulu kau ajarkan padaku. Aku sangat merindukan suasana itu, dimana dirimu selalu menunggu 'ceritaku' dengan sangat sabar.



Menjelang 100 hari dirimu berada di alam yang berbeda denganku...dan pada malam ini, seolah sosokmu menggerakkan jemari ini menari menulis dengan jujur. Yah... jujur aku sangat merindukanmu lebih dari yang kau kira.... miss u so much my teacher #Asdar_Muis#. Teriring doa untukmu, bahagia di pelukan Ilahi, aamiin.

(Jogja, 1 Februari 2015)

Berantakan

Malam ini aku ingin memulai kisah dari kata 'berantakan'. Kata itu keluar dari seorang teman yang notebene seorang penulis dan 'pengangguran eksklusif' (sorry teman kutak tahu pekerjaanmu yang 'asli'). Kata itu merupakan hasil evaluasi setelah membaca tulisan 'awal'ku dan mendengar proses penulisan bersimbah air mata (lebay dikit boleh kan?). Sungguh, aku sangat senang karena masih ada orang jujur sepertinya. Namun, kala kupinta dia merinci hal yang berkaitan dengan 'berantakan', jawaban yang kudapat hanya tawa dan tawa. Benar-benar 'berantakan'!!!! 



Siang menjelang sore kucoba melupakan kata 'berantakan'.  Kusibukkan diri dengan mengurus bakulanku yang sudah mulai ramai dikomentari walau hanya sebatas pertanyaan seputar harga, kualitas dan bla bla bla. Eh...tak lama kemudian ada pesan di inbox. Pesan dari seorang sahabat yang akrab kupanggil 'akang' ( kuragukan dia orang sunda).  Perbincangan seputar kenangan pada 'sang guru', aktivasnya, bakulanku, hingga masalah rencana studi anaknya pun mengalir deras. Saat itu pula terbayang mimiknya di kala bercerita di hadapanku ( sssstttt.... dia sangat ceriwis).

Sekonyong-konyong mimik itu berubah menjadi rasa rindu pada banyak 'mas dan mbak' saat studi di luar negeri.... Mereka sangat menyayangiku dan menganggapku 'adik' yang luar biasa 'berantakan' (ngomong sembarangan, bertindak sesuka hati, dan maunya 'hidup enak'). Dan, hingga kini perhatian mereka selalu ada untukku. Istimewanya lagi, walau usia beranjak senja, mereka tetap menganggapku 'adik' yang sangat 'berantakan'. Duh, sepertinya kata 'berantakan' adalah 'pujian' bagiku (GR banget.... ). 

Apa pun itu, bahagia rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang 'peduli' dengan keberadaanku. Toh, hidup akan nikmat bila satu sama lain saling 'peduli' seperti pribahasa temanku: "lebih baik hujan emas di negeri orang daripada hujan batu di negeri sendiri." Ups sorry..... sepertinya peribahasa dipaksakan ikut bagian dalam cerita..... ..... dasar 'berantakan'!!!!!

(Jogja, 2 Februari 2015)

Wednesday, December 17, 2014

Kontemplasi

Rindu tak kuasa kubendung. Waktu terasa sangat lambat. Kebersamaan adalah kebahagiaan abadi. Malam ini kalian pun ingin mendahului waktu dengan berkemas dan bercerita rencana . Padahal masih ada 2x24 jam memisahkan kita. Rasa sesal pun terasa saat teringat keputusan untuk tak menemaniku lagi di sini. Tapi...mungkin inilah cara Ilahi mengajarkan pada kita arti  cinta, rindu, dan bahagia. Tanpa perpisahan mungkin kebersamaan adalah sesuatu yang terasa sangat biasa. Tanpa perpisahan mungkin kita tak pernah belajar arti seseorang bagi kehidupan ini. Yah,...kebersamaan dan perpisahan menghadirkan 'riuh dan sunyi'. Dan keduanya banyak menempaku untuk tak lagi berbuat kesalahan yang akan menyakiti hati kalian, walau kutahu manusia tak luput dari salah. Toh, salah dan benar hadir sebagai  suatu 'signal' evaluasi diri agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berserah padaNya.
(Yogyakarta, 17 Desember 2014)

Monday, December 8, 2014

Lelaki Hidung Belang

Ada saja ulah laki-laki hidung belang yang bikin semua penghuni kostku terbahak-bahak sambil tepuk jidat.
Kisahnya seperti ini: sebut saja namanya Ana tetangga kamarku. Sudah beberapa bulan ini pacarnya tak ada kabar berita. Padahal sebelum-sebelumnya sang pacar rajin amir apel dan sungguh sikapnya romantis 'full abis'. Entah apa penyebabnya (malas kepo), tiba-tiba Rian (nama pacar Ana) tak pernah lagi menunjukkan keramahan dan sikap romantis yang bikin orang 'kelepek-kelepek' di kostku. 

Dan singkat cerita, Ana meminta pertolongan pada kami untuk menyusun siasat agar sang pacar tak menghindar lagi darinya. Menurut Ana, akhir-akhir ini bila dia sms pacarnya selalu yang balas ibunya dengan berbagai dalih. Tertulis di layar hape beberapa pesan.

Màaf ya Nak, Rian lupa bawa hape ke kantor. 
Maaf Ana, Ini Ibu. Rian sudah jarang sekali bawa hape kemana aja. Ibu    bingung. Kamu yang sabar ya...

Dan masih banyak lagi jawaban sms dari 'sang ibu'. Semua itu menurut kami sangat janggal. Masa sih seorang Rian tak lagi doyan komunikasi dengan hape, sementara menurutku dia itu ada tampang playboy dan tentunya senjata ampuh untuk mendapatkan gebetan baru melalui sosmed menggunakan smartphone.

Tiba-tiba,  di sela-sela kebisuan, salah satu dari kami nyeletuk: "Gimana, kalau kita jebak Rian. Caranya, Ana sms Rian...yah..pura-pura tanya kabar deh. Dan pada waktu yang sama, aku juga sms Rian dengan berpura-pura menjadi teman kuliahnya dan mengaku kembang kampus. Nah...kita lihat reaksinya...."

"Setuju......, "jawab kami  serentak.

Tak berapa lama apa yang kami perkirakan pun terjadi. Seperti biasa sms Ana dijawab 'sang ibu' dengan jawaban klasik nan basi. Sementara sms temanku  dijawab dengan antusias. Dan...akhirnya sampai pada skak mat.


"Duh, maaf ya Sinta...dari tadi kamu cerita tapi Rian belum ingat. Gimana kalau kita ketemuan? Tapi sebelumnya bisa kamu beri clue spesial agar Rian bisa ingat masa-masa indah bersamamu, please..."

"Rian, dulu ......... Sinta sering mengikuti jejakmu. Membalas sms pacarku dengan mengatasnamakan ibuku....biasalah pengen cari gebetan baru....Rian kali ini juga gitu kan? Ngaku dong......"

Dua tiga jenak kemudian, Ana menelpon Rian. Suara  tut tut tut tut...dan diakhiri ' maaf nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau cobalah beberapa saat lagi'.

Wkwkwkwkwkwkw.........Rian...Rian...kasihan banget dirimu. Kalau bohong. Jangan bawa-bawa nama ibu dong. Dosa...........

(Jogja, 8 Desember 2014)

Sunday, December 7, 2014

KETULUSAN CINTA

Senyumku mengembang. Pagi begitu sempurna. Semua pekerjaan rumah beres. Bersih-bersih dan masak kulakukan dengan riang. Hmmm, masih ada yang kurang. Tercium bau tak sedap. Ha....aku belum mandi.....Sembari bersenandung kusambar handuk dan menuju kamar mandi.

Saat mandi yang belum rampung. Suamiku berteriak: " Ma..ada telepon untukmu. Sepertinya sangat penting."

Kuhentikan mengguyur air ke tubuh. Kuraih telepon yang disodorkan suamiku melalui lubang angin kamar mandi.

"Halo...siapa ya?"

"Senang akhirnya setelah puluhan tahun bisa mendengar suaramu.... Saya, Fian....Alfian  Moga kamu masih ingat."

Dug...aku tersentak kaget. Jantungku berdetak kencang. Kenangan itu terputar kembali. Fian adalah cinta pertamaku. Cinta yang tak pernah terucap.

"Halo....kok kamu diam?"

Kenangan itu seketika buyar. Kaget membuatku tanpa sengaja menekan tombol merah pada telepon. Pembicaraan terputus. Sejenak kuterdiam dan selanjutnya kusegerakan menuntaskan mandi.

Handuk masih bertengger di kepalaku. Aku tertegun duduk menatap wajahku di cermin. Kejadian beberapa menit lalu membuatku linglung.

"Hei...kok bengong sih? Siapa yang nelpon tadi?"

Aku tergagap kaget. Entah sejak kapan suamiku berada di dekatku dan tentu memerhatikan tingkah aneh di pagi yang sempurna.

"Bukan siapa-siapa sayang. Hanya teman lama."

"Hmmm...teman lama spesial ya...?? Hayo ..ngaku,"celetuk suamiku dengan nada menggoda sembari menggelitik pinggangku.

Aku terbius dengan canda suamiku. Dan tanpa kusadari kami telah bergumul di ranjang saling menggelitik lekuk-lekuk tubuh. Geli teramat sangat membuatku angat kedua tangan tanda menyerah.

"Ampun...ampun , Sayang. Sudah jangan teruskan...bisa-bisa kita berdua ngompol di kasur."

"Hahahaha....jadi benarkan dugaanku, Sayang."

"Dugaanmu benar. Dia cinta pertamaku. Tapi jangan khawatir kami tak pernah jadian. Dan dia hanyalah masa lalu."

Mata itu menatap tajam tepat di kedua retinaku. Aku tertunduk tak sanggup menatap kecurigaan yang begitu nyata.

"He he he....aku percaya, Sayang. Tentunya semua orang punya masa lalu tak terkecuali dirimu."

Pelukan itu membuatku nyaman. Dan masa lalu tak lagi menjadi penting dikala kasih tulus memenuhi pikiran. Toh, hidup itu akan sangat bermakna bila kita bisa menghargai ketulusan dan tak menodainya dengan dusta.

(Yogyakarta, 9 Desember 2014)

Sunday, November 30, 2014

Ikhlas

Senandung pilu kulantunkan dengan nada perih merintih. Terbayang semua apa yang telah kulakoni di dunia ini. Mengapa kerap kurasa dunia tak berpihak padaku? Apakah aku tak pantas untuk dicintai? Mengapa aku dicampakkan di saat kurasa bahagia mulai merengkuhku?

"Rabb...apakah rencanamu untukku?"

Lengking suaraku begitu lara tenggelam dalam derasnya hujan air duka. Kupuaskan meratapi nasib agar beban membatu di dada berdesakan keluar.

Masih lekat dalam ingatan, tahapan rencana yang kita susun bersama untuk kebahagiaan keluarga kecil tercinta. Tahapan demi tahapan terealisasi sesuai rencana. Tak ada keraguan padamu kekasih hati imam keluarga. Kau begitu sempurna di mataku dan anak-anak serta keluarga besarku.

Air duka itu tumpah lagi dan kali ini di bahu seorang lelaki remaja-anak sulungku. Hanya kepadanyalah aku dapat menumpahkan segala duka akibat luka yang diberikan ayahnya. Luka yang membuat mimpiku buyar. Luka yang mengantarkanku pada putusan yang sangat menyakitkan.

"Berhentilah menangis, Ma. Masih ada kami anak-anakmu yang begitu mencintaimu. Kita akan berjuang bersama mengapai bahagia."

Kuusap air duka karena kalimatmu anakku. Kalian adalah para pejuangku. Allah mengambil suatu nikmat untuk digantikan dengan nikmat berlipat ganda. Itulah yang kini kuyakini. Waktu akan mengajari kita akan banyak hal. Dan selama bersama kalian, aku akan terus berusaha tak lelah untuk berjuang menggapai bahagia yang dijanjikan Ilahi.

Dan esok saat ikrar perpisahan terucap tak ada sedih dan sesal. Ku kan sambut skenarioMu dengan ikhlas. Toh,  Engkau tak akan pernah ingkar dengan janji-janjiMu.

Saturday, November 29, 2014

Surat untuk Rafif

Dear Rafif,

Kecewa berbunga marah. Itulah yang mama rasakan setiap kali menelponmu. Suaramu ketus, terkesan sangat enggan berkomunikasi dengan mama. Jujur ... dengan kondisi ini mama sangat takut bila marahmu kan berbuah kebencian.

Berulangkali mama jelaskan ke Rafif, mama tak akan pernah meninggalkanmu, Nak. Memang benar, jarak memisahkan kita. Tapi itu tidak berarti mama meninggalkanmu.

Rafif selalu memojokkan mama dengan pernyataan: "Ibu yang baik itu adalah ibu yang selalu berada di dekat keluarganya."

Tak ada yang salah dengan pernyataanmu, Nak. Namun, hidup itu penuh dengan pilihan dan tanggungjawab. Saat ini pilihan mama adalah sebagai istri, ibu, dan pegawai yang sedang mendapat tugas belajar. Dan, tentu semua pilihan itu harus dipertanggungjawabkan. Mama tak bisa melepas tanggungjawab satu pilihan untuk pilihan-pilihan yang lain. Begitulah beratnya hidup, Nak.

Mama berusaha membagi waktu seadil-adilnya. Mungkin kelak Rafif akan mengerti kondisi mama.

Maafkan mama bila telah banyak membuatmu kecewa. Maafkan mama bila tidak bisa menjadi mama seperti yang kamu idam-idamkan.

Love u, Nak.

Monday, November 3, 2014

AYAH

Ayah....,
Berita dirimu terjatuh kudengar lagi. Kali ini bibirmu mengeluarkan banyak darah hingga membuat semua orang panik. Syukurnya darah dapat dihentikan keluar setelah mendapat pertolongan perawat di salah satu rumah sakit swasta.

Ayah....,
Beberapa hari lalu, dirimu tersungkur jatuh di saat mencoba berdiri. Kepalamu bocor. Duh, maafkan kami anak-anakmu yang sangat lalai menjagamu ayah. Kami terlalu sibuk dengan urusan yang tak penting. Kami masih saja merasa lelah di saat kau memerlukan perhatian. Padahal, di saat kau perkasa tak ada kata lelah tuk menjaga dan memberi kami kebahagiaan. Maafkan kami ayah....

Ayah....,
Kutahu hatimu menangis, tak ingin menjadi beban di saat kini tak lagi mandiri. Larangan demi larangan kau langgar untuk menunjukkan pada kami dirimu masih mampu, tak menyusahkan orang lain. Duhai ayah, dirimu bukanlah beban tapi sebuah tanggungjawab seperti kami adalah tanggungjawabmu. Walau untuk sebuah tanggungjawab kami masih sangat lalai.

Ayah.....,
Aku akan segera mendekapmu. Mengalirkan rindu yang tak tertahan. Bersama saling mengingat kuasaNya atas kehendakNya pada diri kita. Tetaplah menjadi ayah yang perkasa, tak kenal kata lemah dan menyerah. Tetaplah menjadi suporter kami, karena tanpamu kami lemah.

We love u so much..ayah.

Sunday, November 2, 2014

TULUS-JIWA GURUKU


Masih dalam suasana duka. Hati dan pikiranku belumlah menyatu. Kehilangan sosok seorang guru dan sahabat sangat membuatku terpukul. Rindu begitu mengusik hingga membuatku tak berkutik. Kuingin menyapamu melalui inbox media sosial. Bercerita banyak hal dan tentunya tak bosan mengingatkanmu untuk menjaga pola makan.  Namun, itu tak mungkin lagi. Dirimu telah bersamaNya-Sang Penciptamu. Janjimu tak membuatku sedih, tak kau tepati. Tahukah kau Guru, sepeninggalmu aku sangat berduka. Dukaku begitu mendalam.

Saat kubuka dinding tempatmu berkarya, duka begitu banyak tertuang dalam tulisan. Begitu banyak orang yang mengaku saudara, sahabat, anak dan muridmu mencurahkan segala rasa dan kenangan tentangmu. Seketika, air duka itu menganak sungai. Pada saat ini, aku pun ingin mencurahkan kenangan tentangmu Guru melalui tulisan ini….

Tepat dua tahun lalu, aku memberanikan diri meng-invite-mu menjadi teman di salah satu jejaring media sosial. Walau aku terbilang kerabat dekatmu, namun aku tak pernah mengenalmu secara langsung. Aku hanya berteman dengan adik-adikmu, bahkan dapat dikatakan akrab dengan dua orang adikmu terutama si bontot. Yah, hari itu tanpa sengaja aku membaca tulisanmu di dinding si bontot. ‘Sihirmu’ membuatku terkesima. Kau adalah penulis yang sangat jujur. Tulisanmu adalah dirimu seutuhnya. Sungguh, saat itu juga aku bermimpi menjadi seorang penulis sepertimu.

Sekitar dua bulan setelah permintaanku menjadi muridmu, barulah ada respon positif darimu melalui inbox.

“Mana tulisanmu? Kirimkan segera! Aku tak punya banyak waktu. Kuberi waktu 10 menit.”

Aku tersentak kaget. Bingung.

“Duh, bagaimana sih ini orang…belum ngajari nulis…udah main nodong tulisan,”gerutuku tak menentu. Tapi, entah mengapa aku tak mampu membantah perintahmu. Jemariku menari cepat mencipta cerita perdana yang berjudul “Ibu Rumah Tangga”. Setelah 5 menit ceritaku selesai dan segera kukirim ke inboxmu.

Aku gelisah. Takut mendapat cemooh sebagai penilaianmu tentang ceritaku. Kulirik inbox berkali-kali. Dan… akhirnya penilaianmu mengejutkanku.

“Aku sudah menduga kamu punya kemampuan untuk menulis. Dan, sekarang tunjukkan karyamu ke publik, publish ke dindingmu. Kita lihat respon pembaca.”

“Ga ah….. aku malu. Tulisanku jelek. Aku ga berbakat. Ajari aku! Setelah mahir, barulah ku-publish karyaku. Please!”

Sepuluh, lima belas menit, jawabanmu tak kunjung hadir. Aku berpikir, pastilah dirimu kecewa atau marah atau…ah masa bodoh. Saat itu aku benar-benar tak percaya diri. Ceritaku tak bagus bila dibandingkan dengan karya murid-muridmu yang kukenal di dunia maya.

Satu jam kemudian, dalam kantuk yang amat sangat kulihat jawabanmu.

“Kutunggu, tak kunjung kau kirim karyamu. Kumohon kirimlah! Dan, mulai besok kamu rutin menulis rubrik ‘Ibu Rumah Tangga’. Percayalah, menulis bukanlah bakat. Menulis tak beda dengan menjahit. Awalnya menjiplak pola yang ada, namun setelah itu akan tercipta polamu sendiri.”

‘Sihirmu’ benar-benar membuatku tak berdaya untuk membantah. Cerita demi cerita kukirim ke inboxmu sebelum ku-publis. Itu kulakukan karena ingin mendengar kesanmu pada cerita keseharianku sebagai seorang pembaca. Mungkin aku terlalu naïf ingin menjadi sepertimu-penulis yang jujur.

Kerap sehabis membaca ceritaku, kau berkomentar dengan nada yang sama.

“Sungguh bahagia dirimu mempunyai pengalaman yang tidak pernah bisa kumiliki – membesarkan dan mendidik anak kandung. Aku hanya bisa membesarkan dan mendidik anak orang lain, dan …..itu pengalaman yang sangat berbeda.”

Guru…. kau adalah manusia biasa bukanlah malaikat. Namun, tak ada yang bisa mengingkari bila ketulusan adalah jiwamu. Aku sangat terkesima mendengar komentarmu pada saat kulontarkan pujian bahwa kau adalah seorang ayah dan guru yang hebat.

“Nilai-nilai yang kumiliki itu talenta kebudayaan yang berasal dari nenek moyang yang tulus dan baik hati.”

Kini, dalam malam yang sunyi, aku mengenangmu Guru. Kenangan demi kenangan bersamamu menyadarkanku, selama ini kau telah menularkan ‘nilai-nilai’ itu kepada kami – saudara, sahabat, anak dan murid-muridmu dengan jiwamu – TULUS.

Selamat beristirahat Guru. Tak ada lagi waktu 24 jam yang membuatmu sibuk memikirkan ‘deadline’. Kini saatnya menuai hasil pengejawantahan ‘nilai-nilai’ yang membuatmu menjadi seorang manusia yang begitu amanah dalam menjalankan ke-khalifahan. Percayalah, duka kehilanganmu tak akan lama, karena kutahu kau tak menginginkan itu. Duka kan kuganti dengan karya. Toh, manusia yang hidup masih bertugas dan mempunyai tanggungjawab hingga waktu yang selalu menjadi rahasia Ilahi.

(Yogyakarta, 31 Oktober 2014)

Thursday, October 30, 2014

Duka Mendalam

"Tante...tetap semangat. Selesaikan studimu! Keluarga besar kita sudah banyak memiliki doktor, namun belum ada diantaranya perempuan. Jadilah perempuan yang bisa membanggakan dan membesarkan nama keluarga."

Kalimat support dari Asdar Muis selalu terngiang  dan membuatku tak henti menumpahkan air duka. 

"Usahakan selalu menulis apa pun bentuknya. Bila telah terlatih dan terbiasa, tuangkanlah dalam sebuah karya nyata...BUKU."

Aku tahu kau tak pernah letih mengajariku menulis...

Aku tahu di saat dirimu bersama Allah pun, kau tak pernah berhenti membimbingku melalui karya-karyamu.

Terima kasih Guruku
Aku merindukanmu

Terima kasih atas semua cinta kasihmu kepada Tantemu ini anakku..... Asdar Muis

Doa kami akan selalu menemanimu....