Wednesday, December 11, 2013

Kehilangan

Anak sulungku menangis histeris di ujung telepon genggamku. Dia membuat kakak perempuan dan ibuku kewalahan membujuknya berhenti menangis. Kucari informasi sebab dari kegaduhan di pagi hari menjelang anak-anak ke sekolah melalui anak perempuanku.

"Kakak menangis karena tidak lihat ayah berangkat ke Jakarta tadi subuh, Ma. (Jeda) Sekarang Kakak tidak mau ke sekolah, padahal hari ini masih ujian semester."

"Tolong minta Kakak bicara dengan mama, Dik."

Terdengar isak tangis anak sulungku beberapa detik tanpa mampu berbicara denganku.

"Kak, jangan nangis ya.... Ayo sekarang mandi dan ke sekolah."

"Mama.... kakak mau ayah ada di sini. Kakak mau ikut ayah, jawabnya dengan suara lirih diantara isakan tangisnya.

Aku mencoba menghibur dengan mengalihkan perhatiannya ke mainan yang kujanjikan. Namun, usahaku tak berhasil. Dia hanya menginginkan kami-ayah dan ibunya.

"Ma, pulang..... temani kakak. (Isak tangis) Mama telepon ayah dan bujuk ayah untuk tidak pergi tinggalkan kakak lagi ya....."

Rasa haru membuatku terdiam. Aku tak sangggup menjawab permintaannya. Tak ingin lagi menambah kesedihannya dengan jawaban 'Ya' yang kutahu sulit untuk terwujud. Aku tak akan bisa menahan suamiku untuk tidak pergi meninggalkan kami dengan tujuan yang mulia-mencari nafkah untuk kebahagiaan kami. Dan, aku hanya berharap waktu akan memberikan pemahaman pada anak-anak akan pengalaman berharga yang mereka jalani. Pengalaman yang mengajarkan arti sebuah perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan untuk mencapai tujuan hidup-ridho Ilahi.


(Jogja, 11-12-2013)

Tuesday, December 10, 2013

Bahagia dan Kebahagiaan


Kebahagiaan merupakan impian setiap insan. Untuk mendapatkannya tentulah dibutuhkan perjuangan berupa ikhtiar dan doa.

Seperti itulah inti diskusi antara aku dan keponakanku di sela-sela menikmati cola float di suatu gerai fast food di kawasan Malioboro.

Hampir setengah jam kami mengulas tentang impian kebahagiaan. Dan, aku pun tersadar akan waktu yang begitu cepat berlalu. Kini, keponakankuh telah tumbuh dewasa dan bukan kanak lagi. Dia punya mimpi yang indah bersama pujaan hatinya. Namun, ada hal yang takut dia hadapi dalam meraih impian tersebut. Salah satunya adalah restu orangtua. Dari hari ke hari dirajutnya mimpi pada zona aman. Tak ada keberanian menghadapi rintangan yang menghadang menjelang garis 'bahagia'. Begitu banyak pertimbangan yang menjadi penghalangnya.

"Sampai kapan kamu akan terjebak dalam kondisi tidak nyaman seperti ini? (Jeda) "Tidakkah mendapatkan kepastian akan membuatmu yakin akan terwujudnya mimpimu?"

" Tapi........."

" Sudahlah, raih mimpimu dan tak ada kata tapi," bantahku dengan suara tegas. Dan, kulanjutkan dengan menawarkan beberapa solusi padanya.

Beberapa kali anggukan yang mantap kulihat dan meyakinkanku akan ada perubahan setelah ini. Dan, aku pun membayangkan hari bahagia itu juga akan menjadi hari bahagiaku. Hari dimana mimpi terwujud dengan kegigihan akan usaha dan doa.

(Jogja, 10-12-2013)

Monday, December 9, 2013

Rindu


"Mama, tanggal berapa pulang?"

"Mama belum tahu, Nak."

Tangis pilu terdengar sangat dekat di telingaku. Tangis sedih karena rasa rindu yang mendalam.

"Dik, jangan nangis tetap semangat ya...., mama akan segera pulang."

"Mama....janji cepat pulang ya...please....."

Telepon kumatikan tanpa mampu menuntaskan perbincangan. Sebelum hari ini, aku tak pernah mengkhawatirkannya. Putriku sangatlah mandiri dan mampu mengalahkan perasaan sedihnya dengan beraktivitas. Namun, semuanya berubah. Apakah dia tak kuat lagi berjauhan denganku?

Aku bingung diantara dua kepentingan dan tak dapat memutuskan yang lebih penting. 

(Jogja, 9-12-2013)


Saturday, December 7, 2013

Hidup Harus Terus Berjalan


'Hidup harus terus berjalan'. Sebaris kalimat yang selalu terngiang di telinga dan terekam di otakku, sepekan terakhir ini.

"Keripik talas, Bu...dicoba enak lho," ujar teman kuliah mengalihkan perhatianku dari layar laptop. Aku hanya mengangguk tanpa selera mencoba keripik yang berkemas tak menarik.

"Rasanya luar biasa lho, Bu. Dibumbui dengan cinta dan ketulusan."

Keningku membentuk garis tiga menanggapi kalimat hiperbola temanku.
 
"Betul, Bu. Setiap selesai salat subuh saya bertemu dengan ibu penjual keripik yang sudah sepuh."
 
Cerita pun berlanjut tentang  kegigihan sang penjual sekaligus pembuat keripik. Tak ada tujuan lain selain menjadi orang yang berguna dan berarti dalam kehidupan ini. Dia tak berharap untung yang banyak, cukup untuk membeli beras sekilo setiap hari sangatlah membuatnya bersyukur.
 
Aku terhenyak dengan perasaan aneh yang kurasa.Malu teramat sangat bila bercermin pada kisah sang penjual keripik. "Sudahkah aku berbuat sesuatu untuk menjadi bernilai bagi kehidupan?" atau " Sudah tuluskah aku menjalani hidup ini sebagai bentuk syukur atas segala nikmat Ilahi?"
 
Aku mengambil sebungkus keripik dan menikmatinya dengan penuh rasa. 'Bumbu' ketulusan kasih dan cinta begitu nikmat mengalir ke lubuk hatiku. Dan, aku pun tahu makna dari 'hidup harus terus berjalan'. Hidup adalah totalitas dan tanggungjawab.
 

(Jogja, 7-12-2013)

Thursday, December 5, 2013

Cahaya Kasih


     

"Ibu jadi konsultasi dengan promotor kemarin?" tanya laki-laki yang berwajah sejuk di sampingku. Aku terdiam sejenak sembari mencari jawaban yang pasti. Kulihat matanya begitu tajam meneliti riak di wajahku, seolah mencari kesungguhan tekad yang pernah kujanjikan padanya.

"Belum Pak, aku belum siap. (Jeda) Selain itu kemarin aku dan teman-teman melayat ke rumah atasan kami."
 
Aku merunduk tanpa berani menatapnya. Kuyakin dia sangat kecewa karena ketidaksungguhanku.
 
"Kalau sudah punya tekad harus diniatkan Bu.....jangan setengah-setengah."
 
"Inggih Pak. Matur nuwun."
 
Ada rasa haru menyelimuti hatiku. Kasih seorang teman yang belum lama kukenal begitu sangat menyentuh. Dia begitu tulus memberi 'support' padaku. Bagiku, inilah salah satu bentuk kesempurnaan seorang manusia, ketulusan dalam berbagi kasih tanpa pernah berpikir keuntungan yang akan diperoleh. Dan tentunya dengan 'cahaya kasih' inilah asa pun kurajut.
 
(Jogja, 5-12-2013)

Monday, July 15, 2013

Sekolah Baru

Hampir saja aku telat ke sekolah bila tidak dibangunkan ayah dan mama. Hari ini sungguh istimewa bagiku dan kakak. Pasalnya, hari ini adalah hari pertama kami bersekolah di sekolah yang baru. Mama memutuskan memindahkan kami ke Ampenan setelah empat tahun bersekolah di Jogja. Awalnya sih kami enggan setuju dengan kepindahan ini. Namun, hari ini aku dan kakak senang dengan putusan mama. Pengalaman baru dengan teman, guru dan lingkungan yang baru akan mewarnai kehidupan kami. Dengan berbekal senyum dan percaya diri, tak ada lagi rasa takut untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Apalagi ayah dan mama selalu mendampingi kami. Thanks God for the new eksperiment!

(Ampenan, 15 Juli 2013)

Tuesday, June 25, 2013

Juara Dunia Akhirat

Terlalu berat memutuskan untuk pulang ke Mataram sebelum promosi doktor kulewati. Namun, beragam pertimbangan mengharuskan saya memilih meninggalkan Jogja. Salah satunya, bisa lebih fokus di dekat orangtua – ayah dan ibuku yang selalu mengontrol, dan juga mendekatkan kembali kedua anakku. Lagipula, saya berupaya sesekali ke Jogja jika ada yang mesti saya diskusikan dengan promotor. Toh, saya diizinkan pula melakukan konsultasi lewat email.

Persiapan pulang kampung hampir rampung. Surat pindah anak lelakiku sudah oke. Tersisa anak perempuanku. Makanya, sejak semalam saya mengusulkan pada suami untuk ke sekolah putri mengurus surat pindah. Sebelum matahari menanjak, kami telah bersiap dan kuajak pula putriku yang mulanya tak ingin ke sekolah.

Sampai di sekolah, kupegang tangan putriku menuju ruang guru. Sementara suamiku memarkir sepeda motor dan segera menyusul. Salam kami ucapkan hampir serentak. Para guru menoleh ke arah pintu. Senyum kulayangkan sembari menundukkan kepala sebagai rasa hormatku pada mereka. "Maaf mengganggu, Pak, Bu. Putri saya ingin pamit dan mengucapkan terima kasih," ujarku sambil berkeliling menuntun putriku menyalami satu persatu gurunya.

"Besok bila kuliah di Yogya aja ya, Dik" – wali kelas putriku berpesan dan mencium kedua pipinya.

Putriku terlihat sedih menatap gurunya. Pasalnya, selama mengenyam pendidikan di sekolah swasta bertaraf sekolah rakyat, dia sungguh sangat akrab dengan mereka. Hampir tiap jelang dijemput ayahnya, dia ke ruang guru bercengkerama tanpa sungkan. Begitulah sosok putriku yang 'sangat gaul'. Semua murid dan guru mengenalinya sebagai anak yang ramah dan cerdas.

"Rapor Adik sudah bisa diambil sekarang, Bu," ujar wali kelas anakku memecah kesunyian yang sempat terjadi. Dua jenak kemudian, ibu separuh baya itu pun menghampiri kami yang sedang duduk di ruang tamu guru. Kulihat dia membawa dua bingkisan berbungkus kertas cokelat dan sebuah map. Puteriku mendongak ke arahku seolah bertanya - "Apa itu, Ma?"

Wajah anakku berseri riang saat menerima bingkisan dan tersenyum lebar menatap gurunya.

"Saya peringkat satu, ya Bu?"

"Iya Sayang. Tetap rajin belajar, ya!"

"Makasih banyak, Bu. Oh ya, Adik juga punya bingkisan,” ujarnya sembari meraih kotak kecil dari tangan ayahnya.

Singkat cerita, kami pun akhirnya meninggalkan sekolah. Dalam perjalanan pulang tak henti anakku berceloteh tentang isi bingkisan. Dan tak lama kemudian, dia memintaku mencubit pipinya. "Mama, ini bukan mimpi. Alhamdulillah. Allah telah mengabulkan doaku," teriaknya dengan menengadahkan kedua tangannya.

Setiba di rumah, dua bingkisan dibuka kedua anakku tanpa perlu menunggu aba-abaku. Dan, terlihatlah peralatan sekolah dan sepatu berwarna hitam. Putriku sungguh riang saat mengenakan sepatu yang ukurannya agak besar. "Cukup kok, Ayah. Besar sedikit tidak masalah," jawabnya saat ayahnya menyarankan untuk memberikan sepatu tersebut pada anak tetangga. Kutahu itu dia lakukan karena sangat menghargai apresiasi guru atas usahanya.

"Mama, Adik akan terus belajar dan salat. Jadi nanti Adik dapat peringkat satu lagi di sekolah dan di akhirat," ucapnya lugu.

Subhanallah! Kebahagiaan hari ini begitu sempurna dan saya pun tak sabar menanti hari esok – hari di mana kami akan berkumpul bersama orangtua dan saudaraku menikmati berkahnya bulan Ramadan – bulan di mana tempatnya orang-orang mencari ridha Ilahi dan meraih peringkat satu sebagai bekal di akhirat nanti.

(Jogja, 25 Juni 2013)