Suatu malam yang 'riuh' berirama dengkur orang-orang terkasih, aku 'terlilit' sepi. Ada yang terasa kurang di dalam hidupku. Hal ini membuatku gelisah mencari jawab. Aku punya keluarga, punya pekerjaan, hidup pun tidak sengsara. Apa lagi yang tak kumiliki hingga hidupku sering 'kesepian'?
Jawaban kucoba cari dengan berdiskusi dengan guru menulisku melalui obrolan di media sosial. Tanpa kuduga dengan waktu yang singkat, dia bisa menyimpulkan bahwa aku tak punya teman dengan kategori sahabat.
"Kalau kamu tak pernah percaya dengan persahabatan, maka bersiaplah hidup sunyi di hari tuamu."
Aku tercengang mendapat jawaban seperti itu. Kupikir-kupikir dengan cermat, apa iya aku tak punya sahabat? Temanku banyak, ....tapi..... rasanya aku tak punya seorang 'sahabat'. Loh, sahabat itu apa sih?
"Sahabat itu adalah orang yang memahami 'jiwa' mu, mampu mengisi 'kekuranganmu' dan dia ibarat pakaian, mampu melindungimu dari 'panas' dan 'dingin'."
"Suami adalah sahabatku," jawabku dengan pasti untuk memungkiri dugaannya.
"Memang benar pasangan kita adalah sahabat sejati, namun kamu membutuhkan sahabat di luar lingkup keluarga."
Kini, dalam kesendirian aku mengenang semuanya. Dan, sepi masih kurasa. Sepertinya aku harus mulai mencari sahabat. Tetapi, apakah di kekinian masih ada yang namanya 'sahabat'? Yang kutahu di kekinian sahabat dalam arti 'kepentingan'. Bukan seperti yang kau katakan guru. Bukan sahabat seperti yang kau miliki hingga akhir hayatmu.
Duh, sepi membuatku berkhayal hidup dengan banyak sahabat dalam arti sesungguhnya. Bukan seperti sahabat si A yang sangat menjijikkan, memakan sahabat sendiri demi 'kepentingan'. Sahabat yang akan menuai akibat dari perbuatannya sendiri. (Duh, kok melenceng nih cerita...ups sorry).
Apapun yang kuperoleh hari ini tak pernah bosan kuberharap : "Semoga suatu hari sang sahabat menghampiri dan mampu mengisi kekekuranganku dengan ikhlas hingga hidup terasa 'riuh', aamiin."
#merindu#
(Jogja, 6 Februari 2015)
Sisi kehidupan keseharian seorang perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan makhluk sosial
Tuesday, February 17, 2015
Olshop bakulan
Awalnya dari iseng akhirnya menjadi serius, dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu sedikit tentang bisnis online. Banyak teman dumay (dunia maya) yang dengan senang hati berbagi ilmu bahkan ada yang mengirimi ebook ke emailku. Mereka begitu 'membuka tangan' menerimaku sebagai 'murid' dan 'partner'. Aku menikmati rencana Allah ini. Kujalani hingga berganti rencanaNya yang lain untukku.
Banyak hal yang kuperoleh dari secuil pengalaman ini. Dan satu, dua diantaranya adalah bertemu partner yang masih sangat muda dan calon pembeli 'rewel' (ups maaafff). Awalnya, aku menyangsikan partner berusia muda ini 'the owner' big olshop. Ternyata usia tak menjamin kemampuan seseorang. Adik berparas cantik ini ternyata sangat piawai berbisnis. Dan, hubungan kerja kami sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, kami sama-sama mau menerima kritik dan saran dari satu sama lain. Perbedaan usia yang jauh biasanya membuat 'si tua' merasa lebih jago dari 'si muda' karena 'pengalaman hidup'. Namun, itu tak terjadi pada kami. Aku tak pernah segan belajar dari 'adik' tentang sesuatu yang tak kupaham, begitu pula sebaliknya. Kami saling memahami sampai sejauh ini. Alhamdulillah.
Hal lain yang menjadi pengalamanku dalam waktu yang singkat ini adalah bisnis online bisa berlangsung bila saling percaya. Tetapi, kepercayan tak bisa dipaksakan. Seperti yang kualami tadi siang. Seorang calon pembeli meminta kepadaku untuk mengirimkannya beberapa gambar produk yang kujual. Dan, singkat cerita dia membeli beberapa produkku. Yang paling menakjubkan bagiku, dia mengirimkanku pesan yang berbunyi :
"Mbak, aku baru transfer kalau sudah lihat semua barang yang kuinginkan difoto dalam satu gambar."
Inti pesan itu, calon pembeli tak percaya pada si penjual. Dia mungkin berfikir, aku menjual barang fiktif saja yaitu foto produk. Atau bisa jadi dia berfikir di zaman serba instan ini sangatlah langka orang yang memegang amanah. Apa pun itu, aku tak kuasa memaksanya untuk percaya begitu saja padaku selain mengerjakan apa yang dia inginkan.
Yah....dengan menikmati rencana Ilahi banyak pengalaman yang kudapat. Pengalaman yang mengajarkan padaku untuk pandai 'menempatkan' diri dengan selalu berpedoman pada ajaranNya. Toh, tak ada manusia yang sempurna termasuk diriku, jadi tak perlu risau bila berhadapan dengan banyak karakter yang tak sesuai. Yakinlah, 'tangan' Ilahi akan menuntun kita menuju rencanaNya yang lebih baik daripada rencana manusia.
#ceritapengalamanbakulan
(Jogja, 7 Februari 2015)
Banyak hal yang kuperoleh dari secuil pengalaman ini. Dan satu, dua diantaranya adalah bertemu partner yang masih sangat muda dan calon pembeli 'rewel' (ups maaafff). Awalnya, aku menyangsikan partner berusia muda ini 'the owner' big olshop. Ternyata usia tak menjamin kemampuan seseorang. Adik berparas cantik ini ternyata sangat piawai berbisnis. Dan, hubungan kerja kami sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, kami sama-sama mau menerima kritik dan saran dari satu sama lain. Perbedaan usia yang jauh biasanya membuat 'si tua' merasa lebih jago dari 'si muda' karena 'pengalaman hidup'. Namun, itu tak terjadi pada kami. Aku tak pernah segan belajar dari 'adik' tentang sesuatu yang tak kupaham, begitu pula sebaliknya. Kami saling memahami sampai sejauh ini. Alhamdulillah.
Hal lain yang menjadi pengalamanku dalam waktu yang singkat ini adalah bisnis online bisa berlangsung bila saling percaya. Tetapi, kepercayan tak bisa dipaksakan. Seperti yang kualami tadi siang. Seorang calon pembeli meminta kepadaku untuk mengirimkannya beberapa gambar produk yang kujual. Dan, singkat cerita dia membeli beberapa produkku. Yang paling menakjubkan bagiku, dia mengirimkanku pesan yang berbunyi :
"Mbak, aku baru transfer kalau sudah lihat semua barang yang kuinginkan difoto dalam satu gambar."
Inti pesan itu, calon pembeli tak percaya pada si penjual. Dia mungkin berfikir, aku menjual barang fiktif saja yaitu foto produk. Atau bisa jadi dia berfikir di zaman serba instan ini sangatlah langka orang yang memegang amanah. Apa pun itu, aku tak kuasa memaksanya untuk percaya begitu saja padaku selain mengerjakan apa yang dia inginkan.
Yah....dengan menikmati rencana Ilahi banyak pengalaman yang kudapat. Pengalaman yang mengajarkan padaku untuk pandai 'menempatkan' diri dengan selalu berpedoman pada ajaranNya. Toh, tak ada manusia yang sempurna termasuk diriku, jadi tak perlu risau bila berhadapan dengan banyak karakter yang tak sesuai. Yakinlah, 'tangan' Ilahi akan menuntun kita menuju rencanaNya yang lebih baik daripada rencana manusia.
#ceritapengalamanbakulan
(Jogja, 7 Februari 2015)
Bercak
Manusia pada saat lahir adalah suci, itu yang kupercaya hingga kini. Dalam perjalanan hidup, manusia 'berproses'. Nah, dalam 'proses inilah ada bercak-bercak yang menodai hingga tak lagi bisa dikatakan suci. Namun, aku pun percaya, manusia dibekali hati nurani oleh Sang Penguasa. Sehingga, bila bercak ingin atau telah 'melekat' padanya, maka hati nurani pun kan beraksi. Adapun awal aksi dari hati nurani adalah sangat jelas yaitu menolak bercak. Tetapi bila manusia tak lagi mendengarkan suara hati dikarenakan menerima bercak dengan suka hati, maka........... waspadalah!!!!!! Bukan saja hati nurani yang tertutup bercak, tapi 'cahaya' pun enggan singgah menyinari wajah manusia jelita nan rupawan.
Congkak, serakah, iri hati, dengki adalah beberapa sifat bawaan manusia yang merupakan faktor pemicu 'tumbuh kembang' bercak. Saat ini, aku adalah manusia penuh bercak. Bercak yang tumbuh dan berkembang dikarenakan ketidakmampuanku mengendalikan hawa nafsu untuk memenuhi 'ambisi (-)'. Ambisi (-) yang terkadang membuatku tuli hingga tak mampu mendengar suara indah hati nurani. Ambisi (-) yang kerap membutakan mata batinku hingga tak mampu membedakan warna hitam dan putih.
Ingin kurasakan lagi menjadi bayi suci tanpa bercak. Bayi yang tak memiliki ambisi (-). Tapi apalah daya, waktu terus berjalan maju dan tak akan pernah mundur. Manusia benar adanya selalu berproses. Dan, kali ini kuberharap dengan sisa waktuku yang tak lama lagi dapat berjumpa dengan banyak manusia yang mampu menumbuhkan ambisi (+) yang mungkin masih banyak kumiliki. Ambisi (+) yang kuharap paling tidak dapat memudarkan warna bercak dan mengeluarkan sedikit cahaya. Setidaknya, dengan bercak yang memudar dan sedikit cahaya, aku menjadi manusia yang berproses ke arah yang lebih baik. Toh, selamanya aku tak akan pernah menjadi manusia suci kecuali atas ridha Sang Pencipta manusia - Allah Ya Rabb.
#harapanmanusiapendosa#
(Jogja, 17 Februari 2015)
Congkak, serakah, iri hati, dengki adalah beberapa sifat bawaan manusia yang merupakan faktor pemicu 'tumbuh kembang' bercak. Saat ini, aku adalah manusia penuh bercak. Bercak yang tumbuh dan berkembang dikarenakan ketidakmampuanku mengendalikan hawa nafsu untuk memenuhi 'ambisi (-)'. Ambisi (-) yang terkadang membuatku tuli hingga tak mampu mendengar suara indah hati nurani. Ambisi (-) yang kerap membutakan mata batinku hingga tak mampu membedakan warna hitam dan putih.
Ingin kurasakan lagi menjadi bayi suci tanpa bercak. Bayi yang tak memiliki ambisi (-). Tapi apalah daya, waktu terus berjalan maju dan tak akan pernah mundur. Manusia benar adanya selalu berproses. Dan, kali ini kuberharap dengan sisa waktuku yang tak lama lagi dapat berjumpa dengan banyak manusia yang mampu menumbuhkan ambisi (+) yang mungkin masih banyak kumiliki. Ambisi (+) yang kuharap paling tidak dapat memudarkan warna bercak dan mengeluarkan sedikit cahaya. Setidaknya, dengan bercak yang memudar dan sedikit cahaya, aku menjadi manusia yang berproses ke arah yang lebih baik. Toh, selamanya aku tak akan pernah menjadi manusia suci kecuali atas ridha Sang Pencipta manusia - Allah Ya Rabb.
#harapanmanusiapendosa#
(Jogja, 17 Februari 2015)
Thursday, February 5, 2015
Bersyukur dan meminta ampun
Berhari-hari terbaring di kasur yang jauh dari kata empuk dengan
ditemani 'lappy' merah butut, lumayan membosankan. Ingin rasanya
beraktivitas seperti biasa untuk segera menyelesaikan tugas yang sedang
kuemban. Namun, apalah kuasaku... badan terasa lemah dikarenakan sakit
yang didiagnosis dokter akibat stress. Stress kah diriku?
Entahlah....aku tak mampu menilai diriku sendiri.
Bercerita soal sakit, sehat, lemah, dan kuat, tiba-tiba kuteringat pada lelaki tua yang beberapa bulan lalu kujumpa di bus. Siang itu, di suatu halte pemberhentian bus 'Trans Jogja', lelaki tua yang kuperkirakan berumur di atas 80 tahunan melompat ke bus dengan sigap ...sangat cekatan (malah menolak bantuan petugas). Sosok tua itu jauh dari kata renta dan lemah. Dengan gerak cepat kupersilakan beliau duduk tepat di sampingku. Dia tersenyum sangat ramah. Sejenak dua jenak kami duduk berdampingan saling membisu. Saat aku ingin mengamati wajah tuanya, saat itu pula dia menegurku dengan ramah.
"Anak, tujuannya mau kemana?"
"Ke pasar Pak, ingin membelikan ibu baju batik."
Setelah percakapan pembukaan, aku mulai mengorek rahasia kesehatan sosok tua yang ternyata berusia 93 tahun. Wajah memang tak akan menipu bila dia sudah masuk kategori tua. Tetapi 'tampilan prima'nya membuatku terkagum-kagum. Bagaimana tidak, ayahku dengan usia 10 tahun lebih muda darinya tak seprima itu.
"Bapak dulu seorang pejuang, Nak. Bapak dari dulu hingga kini selalu menerima dengan ikhlas kehendakNya..... (hela nafas) ....Sakit, sehat, lemah, kuat adalah dari Sang Penguasa."
Aku manggut-manggut tanda paham.
"Rahasia kesehatan Bapak ada dua, Nak. Bersyukur dan meminta ampun padaNya."
(Menatap wajahku dengan cermat....terlihat wajah lebih tua dari usia hahahaha)
"Setiap saat panjatkan kata hamdallah dan istigfar. Apapun yang sedang anak alami, Insya Allah semua akan terasa sempurna."
Sosok tua itu menutup pembicaraan dengan senyum yang sangat tulus, kemudian pamit padaku untuk turun di halte berganti bus menuju kediamannya. Kuamati punggungnya yang kokoh. Tanpa sadar kulapazkan kedua kata yang dia sarankan dalam hati (tanpa sadar air mata pun menitik).
"Astagfirullah, alhamdulillah Ya Rabb, Engkau telah beri aku kesempatan bertemu dengan lelaki tua itu. Melalui dirinya Engkau ingatkan aku akan begitu banyak nikmatMu yang kuingkari....Melalui dirinya Engkau ingatkan aku untuk selalu bersyukur padaMU."
Sekonyong-konyong lamunanku buyar dengan bunyi ketukan di pintu kamar kostku.
Tok ..tok...tok...tok.....
"Mbak... buka pintunya.... Ibu bawa makanan dan teh hangat untukmu."
Masya Allah, benar kata lelaki tua itu hidup akan terasa sempurna dengan selalu bersyukur dan meminta ampun padaNya. Buktinya...dengan terbaring lemah di tempat tidur, rezekiNya menghampiriku melalui tangan ibu kost. Alhamdulillah.
Sakit, sehat, kuat dan lemah memang benar datang dariNya. Jadi sangatlah tak patut bila kita sesumbar atau mengeluh berlebihan. Toh, raga dan jiwa ini milikNya, dan hanya dengan ikhtiar dan keikhlasan menerima semua karuniaNya hidup kan terasa indah sempurna. Insya Allah.
#menasehatidirisendiri#
(Jogja, 5 Februari 2015)
Bercerita soal sakit, sehat, lemah, dan kuat, tiba-tiba kuteringat pada lelaki tua yang beberapa bulan lalu kujumpa di bus. Siang itu, di suatu halte pemberhentian bus 'Trans Jogja', lelaki tua yang kuperkirakan berumur di atas 80 tahunan melompat ke bus dengan sigap ...sangat cekatan (malah menolak bantuan petugas). Sosok tua itu jauh dari kata renta dan lemah. Dengan gerak cepat kupersilakan beliau duduk tepat di sampingku. Dia tersenyum sangat ramah. Sejenak dua jenak kami duduk berdampingan saling membisu. Saat aku ingin mengamati wajah tuanya, saat itu pula dia menegurku dengan ramah.
"Anak, tujuannya mau kemana?"
"Ke pasar Pak, ingin membelikan ibu baju batik."
Setelah percakapan pembukaan, aku mulai mengorek rahasia kesehatan sosok tua yang ternyata berusia 93 tahun. Wajah memang tak akan menipu bila dia sudah masuk kategori tua. Tetapi 'tampilan prima'nya membuatku terkagum-kagum. Bagaimana tidak, ayahku dengan usia 10 tahun lebih muda darinya tak seprima itu.
"Bapak dulu seorang pejuang, Nak. Bapak dari dulu hingga kini selalu menerima dengan ikhlas kehendakNya..... (hela nafas) ....Sakit, sehat, lemah, kuat adalah dari Sang Penguasa."
Aku manggut-manggut tanda paham.
"Rahasia kesehatan Bapak ada dua, Nak. Bersyukur dan meminta ampun padaNya."
(Menatap wajahku dengan cermat....terlihat wajah lebih tua dari usia hahahaha)
"Setiap saat panjatkan kata hamdallah dan istigfar. Apapun yang sedang anak alami, Insya Allah semua akan terasa sempurna."
Sosok tua itu menutup pembicaraan dengan senyum yang sangat tulus, kemudian pamit padaku untuk turun di halte berganti bus menuju kediamannya. Kuamati punggungnya yang kokoh. Tanpa sadar kulapazkan kedua kata yang dia sarankan dalam hati (tanpa sadar air mata pun menitik).
"Astagfirullah, alhamdulillah Ya Rabb, Engkau telah beri aku kesempatan bertemu dengan lelaki tua itu. Melalui dirinya Engkau ingatkan aku akan begitu banyak nikmatMu yang kuingkari....Melalui dirinya Engkau ingatkan aku untuk selalu bersyukur padaMU."
Sekonyong-konyong lamunanku buyar dengan bunyi ketukan di pintu kamar kostku.
Tok ..tok...tok...tok.....
"Mbak... buka pintunya.... Ibu bawa makanan dan teh hangat untukmu."
Masya Allah, benar kata lelaki tua itu hidup akan terasa sempurna dengan selalu bersyukur dan meminta ampun padaNya. Buktinya...dengan terbaring lemah di tempat tidur, rezekiNya menghampiriku melalui tangan ibu kost. Alhamdulillah.
Sakit, sehat, kuat dan lemah memang benar datang dariNya. Jadi sangatlah tak patut bila kita sesumbar atau mengeluh berlebihan. Toh, raga dan jiwa ini milikNya, dan hanya dengan ikhtiar dan keikhlasan menerima semua karuniaNya hidup kan terasa indah sempurna. Insya Allah.
#menasehatidirisendiri#
(Jogja, 5 Februari 2015)
Tuesday, February 3, 2015
Fantasi
Ini cerita apa sih? 'Berfantasi maksudnya apa? Tujuannya apa? Entahlah... saya juga bingung. Saya pribadi sering berfantasi menjadi orang super pintar, sukses dan kaya raya. Kenapa berfantasi? Jujur, saat jenuh tumpah ruah, saya ingin menjadi orang lain... yah ..menikmati kepuasan semu menjadi pribadi yang beda.
Seandainya pintar...mungkin kuliahku sudah lama rampung....
Seandainya sukses dan kaya raya...mungkin impian ayahku memiliki sekolah gratis yang super mewah dapat kuwujudkan. Intinya dengan fantasi, hidup serasa sangaaaaatttt mudah dan semua keinginan terwujud......
Seandainya..... seandainya......
Berandai-andai memang nikmat...bahkan sangat nikmat (kerap ada yg sakau), tetapi tak lantas tenggelam dalam kalimat 'I wish bla bla bla' saja kan.....
Hidup adalah sebuah realita kawan. Jadi berandai-andai jangan menjadi rutinitas ya.... entar hidup dalam mimpi lho! Yo wis.. tetap semangat!!!!!!! Merdeka!
(Jogja, 1 Februari 2015)
Rindu
Seandainya dirimu masih 'nyata', mungkin namaku masuk dalam daftar blokir pertemanan denganmu di dunia maya.
Masih teringat kata-katamu saat itu: "Kudelete namamu kalau jualan di dindingku!" Kutahu posting bakulan sering mengganggu kenyamanan seseorang yang berselancar di dunia maya terutama yang berkaitan dengan 'mata dan kantong' (tak ada penjelasan detail). Tetapi alasanmu (melarang) yang sebenarnya apa? Setahuku, dirimu hobi berbelanja. Setahuku, dirimu royal membelanjakan penghasilanmu untuk membahagiakan orang-orang terkasih. Seharusnya dengan bakulan yang hilir mudik di dindingmu dapat memudahkanmu berbelanja. Tak harus meninggalkan pekerjaan menulis yang sangat kau cintai. Ah... andai dirimu 'nyata' kuingin menggodamu dengan bakulanku. Tapi, apa aku seberani itu? Entahlah, yang pasti kurindu 'omelanmu', nasihatmu, supportmu dan masih banyak yang lainnya...
Dari dunia nyata ini, kumohon jangan delete namaku karena aku sangat mengasihimu. Kuakui, bakulan adalah 'mainan baru', namun itu tak berarti aku tak merindukan 'rutinitas' yang dulu kau ajarkan padaku. Aku sangat merindukan suasana itu, dimana dirimu selalu menunggu 'ceritaku' dengan sangat sabar.
Menjelang 100 hari dirimu berada di alam yang berbeda denganku...dan pada malam ini, seolah sosokmu menggerakkan jemari ini menari menulis dengan jujur. Yah... jujur aku sangat merindukanmu lebih dari yang kau kira.... miss u so much my teacher #Asdar_Muis#. Teriring doa untukmu, bahagia di pelukan Ilahi, aamiin.
(Jogja, 1 Februari 2015)
Masih teringat kata-katamu saat itu: "Kudelete namamu kalau jualan di dindingku!" Kutahu posting bakulan sering mengganggu kenyamanan seseorang yang berselancar di dunia maya terutama yang berkaitan dengan 'mata dan kantong' (tak ada penjelasan detail). Tetapi alasanmu (melarang) yang sebenarnya apa? Setahuku, dirimu hobi berbelanja. Setahuku, dirimu royal membelanjakan penghasilanmu untuk membahagiakan orang-orang terkasih. Seharusnya dengan bakulan yang hilir mudik di dindingmu dapat memudahkanmu berbelanja. Tak harus meninggalkan pekerjaan menulis yang sangat kau cintai. Ah... andai dirimu 'nyata' kuingin menggodamu dengan bakulanku. Tapi, apa aku seberani itu? Entahlah, yang pasti kurindu 'omelanmu', nasihatmu, supportmu dan masih banyak yang lainnya...
Dari dunia nyata ini, kumohon jangan delete namaku karena aku sangat mengasihimu. Kuakui, bakulan adalah 'mainan baru', namun itu tak berarti aku tak merindukan 'rutinitas' yang dulu kau ajarkan padaku. Aku sangat merindukan suasana itu, dimana dirimu selalu menunggu 'ceritaku' dengan sangat sabar.
Menjelang 100 hari dirimu berada di alam yang berbeda denganku...dan pada malam ini, seolah sosokmu menggerakkan jemari ini menari menulis dengan jujur. Yah... jujur aku sangat merindukanmu lebih dari yang kau kira.... miss u so much my teacher #Asdar_Muis#. Teriring doa untukmu, bahagia di pelukan Ilahi, aamiin.
(Jogja, 1 Februari 2015)
Berantakan
Malam ini aku ingin memulai kisah dari kata 'berantakan'. Kata itu keluar dari seorang teman yang notebene seorang penulis dan 'pengangguran eksklusif' (sorry teman kutak tahu pekerjaanmu yang 'asli'). Kata itu merupakan hasil evaluasi setelah membaca tulisan 'awal'ku dan mendengar proses penulisan bersimbah air mata (lebay dikit boleh kan?). Sungguh, aku sangat senang karena masih ada orang jujur sepertinya. Namun, kala kupinta dia merinci hal yang berkaitan dengan 'berantakan', jawaban yang kudapat hanya tawa dan tawa. Benar-benar 'berantakan'!!!!
Siang menjelang sore kucoba melupakan kata 'berantakan'. Kusibukkan diri dengan mengurus bakulanku yang sudah mulai ramai dikomentari walau hanya sebatas pertanyaan seputar harga, kualitas dan bla bla bla. Eh...tak lama kemudian ada pesan di inbox. Pesan dari seorang sahabat yang akrab kupanggil 'akang' ( kuragukan dia orang sunda). Perbincangan seputar kenangan pada 'sang guru', aktivasnya, bakulanku, hingga masalah rencana studi anaknya pun mengalir deras. Saat itu pula terbayang mimiknya di kala bercerita di hadapanku ( sssstttt.... dia sangat ceriwis).
Sekonyong-konyong mimik itu berubah menjadi rasa rindu pada banyak 'mas dan mbak' saat studi di luar negeri.... Mereka sangat menyayangiku dan menganggapku 'adik' yang luar biasa 'berantakan' (ngomong sembarangan, bertindak sesuka hati, dan maunya 'hidup enak'). Dan, hingga kini perhatian mereka selalu ada untukku. Istimewanya lagi, walau usia beranjak senja, mereka tetap menganggapku 'adik' yang sangat 'berantakan'. Duh, sepertinya kata 'berantakan' adalah 'pujian' bagiku (GR banget.... ).
Apa pun itu, bahagia rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang 'peduli' dengan keberadaanku. Toh, hidup akan nikmat bila satu sama lain saling 'peduli' seperti pribahasa temanku: "lebih baik hujan emas di negeri orang daripada hujan batu di negeri sendiri." Ups sorry..... sepertinya peribahasa dipaksakan ikut bagian dalam cerita..... ..... dasar 'berantakan'!!!!!
(Jogja, 2 Februari 2015)
Siang menjelang sore kucoba melupakan kata 'berantakan'. Kusibukkan diri dengan mengurus bakulanku yang sudah mulai ramai dikomentari walau hanya sebatas pertanyaan seputar harga, kualitas dan bla bla bla. Eh...tak lama kemudian ada pesan di inbox. Pesan dari seorang sahabat yang akrab kupanggil 'akang' ( kuragukan dia orang sunda). Perbincangan seputar kenangan pada 'sang guru', aktivasnya, bakulanku, hingga masalah rencana studi anaknya pun mengalir deras. Saat itu pula terbayang mimiknya di kala bercerita di hadapanku ( sssstttt.... dia sangat ceriwis).
Sekonyong-konyong mimik itu berubah menjadi rasa rindu pada banyak 'mas dan mbak' saat studi di luar negeri.... Mereka sangat menyayangiku dan menganggapku 'adik' yang luar biasa 'berantakan' (ngomong sembarangan, bertindak sesuka hati, dan maunya 'hidup enak'). Dan, hingga kini perhatian mereka selalu ada untukku. Istimewanya lagi, walau usia beranjak senja, mereka tetap menganggapku 'adik' yang sangat 'berantakan'. Duh, sepertinya kata 'berantakan' adalah 'pujian' bagiku (GR banget.... ).
Apa pun itu, bahagia rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang 'peduli' dengan keberadaanku. Toh, hidup akan nikmat bila satu sama lain saling 'peduli' seperti pribahasa temanku: "lebih baik hujan emas di negeri orang daripada hujan batu di negeri sendiri." Ups sorry..... sepertinya peribahasa dipaksakan ikut bagian dalam cerita..... ..... dasar 'berantakan'!!!!!
(Jogja, 2 Februari 2015)
Subscribe to:
Posts (Atom)

