"Kak, saya cuma terima dana SPP saja. Teman-teman lain sudah dapat SPP plus uang bulanan selama 4 bulan. Piye ki, Kak? Btw Kakak dapat berapa?"
Waduh..... isi sms teman studiku membuatku bingung. Kok bisa beda ya besaran dana yang diterima? Aku khawatir berbuat kesalahan karena akulah yang mengurus administrasinya. Dan, aku juga khawatir bernasib sama dengannya. Alamat harus mengurus kembali ke bagian keuangan kampusku esok hari.
Kekhawatiranku ternyata terbukti. Setelah cek saldo di ATM, tabunganku hanya bertambah sebesar dana SPP saja.
Kucoba mencari kesalahan yang kira-kira telah kami perbuat hingga mempunyai nasib yang berbeda dengan teman lainnya.
Berbagai kemungkinan kuutarakan ke dua sahabatku yang kebetulan teman kerja yang sedang studi di tempat sama dan juga mendapatkan dana dengan besaran yang sama seperti teman lainnya. Tanggapan mereka sama yaitu menyarankanku mengurus ke bagian keuangan.
Duh, aku ingin di saat badanku kurang fit seperti ini dan terkena masalah, orang yang kucintai ada di sisiku 'tuk mensupportku. Dan, rasa kebergantungan pada suami pun muncul begitu besar.
"Aku tak bisa tanpa dia."
Suara hatiku menyentak kesadaranku akan kepongahan yang tercipta selama sendiri di lokasi studi. Sekecil apa pun perannya ternyata sangatlah berarti bagiku. Toh, dia adalah pasangan yang diberikan padaku oleh Ilahi untuk saling melengkapi tanpa menghitung seberapa besar peranan masing-masing.
(Jogja, 1 Januari 2014)
No comments:
Post a Comment