"Bagaimana kondisimu, Nak?" - suara bernada khawatir ayahku tiba-tiba menggantikan rengekan anak sulungku di telepon.
"Baik, 'Yah. Aku sehat. Alhamdulillah " - suaraku terdengar riang mencerminkan kondisi yang tak perlu dikhawatirkan. Kutahu ayah pasti kalut setelah mendengar cerita kakak perempuanku tentang cedera punggungku.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Nak. Ayah lega dengar dirimu dalam kondisi sehat."
Duh.....ayah, begitu besar rasa sayang dan perhatianmu padaku walau tak lagi kanak. Maafkan aku ayah, sejak kanak hingga kini masih sering membuatmu khawatir. Aku sangat paham rasa itu adalah wujud cintamu yang begitu besar padaku.
Teringat belasan tahun silam, setelah beberapa bulan pasca menamatkan kuliah S1. Aku tiba-tiba terserang gejala keracunan sesaat setelah tiba di rumah sehabis membelikan buah apel untuk ayah yang sedang terbaring sakit. Awalnya, muncul bentol-bentol di seluruh tubuh dan sangat gatal serta panas. Dalam sekejap kakak iparku mengambilkan segelas air kelapa dari penjual es di depan kios ibuku. Namun, itu tak membuat tubuhku membaik. Pandanganku seketika gelap. Aku pingsan. Tak berselang berapa lama kudengar samar-samar suara ayah di sampingku.
"Kasihani anakku....Ya Allah."
Berulangkali kalimat itu dia ucapkan dalam bahasa bugis. Aku sungguh terenyuh melihatnya sangat bersedih di kala tubuhnya pun dalam kondisi sakit. Ingin menenangkannya dengan menggenggam tangannya. Tapi, duh.....tangan, kaki dan badanku tak bisa kugerakkan. Tubuhku kaku dan berubah warna .....membiru. Seketika tangisku meledak.
" Ayah....aku kenapa ini? Bawa aku ke rumah sakit."
Ayah panik dan meminta ibu dan kakakku mencari bantuan ke tetangga.
Kenangan itu sungguh sangat membekas. Apalagi bila teringat kata dokter yang memeriksaku di IRD rumah sakit pemerintah di tempat tinggalku. "Bila telat 5 menit saja, kemungkinan nyawa Adik tidak tertolong."
Maafkan aku ayah. Kuharap tak ada lagi kekhawatiran yang kucipta, karena bahagiamu adalah surga bagiku.
(Jogja, 4 Januari 2014)
No comments:
Post a Comment