Wednesday, April 16, 2014

Chilla note-Arti Bahagia

Sampai hari ini aku dan kakak belum punya baju baru. Kami tak peduli. Tak pernah merengek pada mama dan ayah untuk dibelikan. Biasanya bila lebaran hampir tiba, kami akan diajak berbelanja baju. Namun, hingga hari ini tak ada tanda-tanda itu. Mama hanya bercerita padaku bahwa kebahagiaan di hari raya bukan pada baju baru. Tetapi berkumpul dengan keluarga dan saling berbagi. Di hari Idul Fitri tak boleh ada yang sedih. Semua kaum muslim harus bergembira. Untuk itulah kaum muslimin diwajibkan untuk berzakat dan bersedekah. Terbayang kegembiraan yang akan kurasa di hari fitri tersebut. Hadiah berupa uang, pelukan dan ciuman dari keluarga akan kudapat atas usahaku berpuasa sebulan penuh. Duh, mulai terpikir duitnya akan kubelikan berbagai macam makanan dan mainan. Kali ini , aku benar- benar mengerti bahwa kebahagiaan adalah 'sesuatu banget'.

(Ampenan, 23 Juli 2013)

Peran

"Kak, saya cuma terima dana SPP saja. Teman-teman lain sudah dapat SPP plus uang bulanan selama 4 bulan. Piye ki, Kak? Btw Kakak dapat berapa?"

Waduh..... isi sms teman studiku membuatku bingung. Kok bisa beda ya besaran dana yang diterima? Aku khawatir berbuat kesalahan karena akulah yang mengurus administrasinya. Dan, aku juga khawatir bernasib sama dengannya. Alamat harus mengurus kembali ke bagian keuangan kampusku esok hari.

Kekhawatiranku ternyata terbukti. Setelah cek saldo di ATM, tabunganku hanya bertambah  sebesar dana SPP saja.
Kucoba mencari kesalahan yang kira-kira telah kami perbuat hingga mempunyai nasib yang berbeda dengan teman lainnya.

Berbagai kemungkinan kuutarakan ke dua sahabatku yang kebetulan teman kerja yang sedang studi di tempat sama dan juga mendapatkan dana dengan besaran yang sama seperti teman lainnya. Tanggapan mereka sama yaitu menyarankanku mengurus ke bagian keuangan.

Duh, aku ingin di saat badanku kurang fit seperti ini dan terkena masalah, orang yang kucintai ada di sisiku 'tuk mensupportku. Dan, rasa kebergantungan pada suami pun muncul begitu besar.

"Aku tak bisa tanpa dia."

Suara hatiku menyentak kesadaranku akan kepongahan yang tercipta selama sendiri di lokasi studi. Sekecil apa pun perannya ternyata sangatlah berarti bagiku. Toh, dia adalah pasangan yang diberikan padaku oleh Ilahi untuk saling melengkapi tanpa menghitung seberapa besar peranan masing-masing.

(Jogja, 1 Januari 2014)

A y a h

"Bagaimana kondisimu, Nak?" - suara bernada khawatir ayahku tiba-tiba menggantikan rengekan anak sulungku di telepon.

"Baik, 'Yah. Aku sehat. Alhamdulillah " - suaraku terdengar riang mencerminkan kondisi yang tak perlu dikhawatirkan. Kutahu ayah pasti kalut setelah mendengar cerita kakak perempuanku tentang cedera punggungku.

"Alhamdulillah. Terima kasih, Nak. Ayah lega dengar dirimu dalam kondisi sehat."

Duh.....ayah, begitu besar rasa sayang dan perhatianmu padaku walau tak lagi kanak. Maafkan aku ayah, sejak kanak hingga kini masih sering membuatmu khawatir. Aku sangat paham rasa itu adalah wujud cintamu yang begitu besar padaku.

Teringat belasan tahun silam, setelah beberapa bulan pasca menamatkan kuliah S1.  Aku tiba-tiba terserang gejala keracunan sesaat setelah tiba di rumah sehabis membelikan buah apel untuk ayah yang sedang terbaring sakit. Awalnya, muncul bentol-bentol di seluruh tubuh dan sangat gatal serta panas. Dalam sekejap kakak iparku mengambilkan segelas air kelapa dari penjual es di depan kios ibuku. Namun, itu tak membuat tubuhku membaik. Pandanganku seketika gelap. Aku pingsan. Tak berselang berapa lama kudengar samar-samar suara ayah di sampingku.

"Kasihani anakku....Ya Allah."

Berulangkali kalimat itu dia ucapkan dalam bahasa bugis. Aku sungguh terenyuh melihatnya sangat bersedih di kala tubuhnya pun dalam kondisi sakit. Ingin menenangkannya dengan menggenggam tangannya. Tapi, duh.....tangan, kaki dan badanku tak bisa kugerakkan. Tubuhku kaku dan berubah warna .....membiru. Seketika tangisku meledak.

" Ayah....aku kenapa ini? Bawa aku ke rumah sakit."

Ayah panik dan meminta ibu dan kakakku mencari bantuan ke tetangga.

Kenangan itu sungguh sangat membekas. Apalagi bila teringat kata dokter yang memeriksaku di IRD rumah sakit pemerintah di tempat tinggalku. "Bila telat 5 menit saja, kemungkinan nyawa Adik tidak tertolong."

Maafkan aku ayah. Kuharap tak ada lagi kekhawatiran yang kucipta, karena bahagiamu adalah surga bagiku.

(Jogja, 4 Januari 2014)

Status 'Lelaki'

Begitu banyak reaksi melalui inboxku mengenai statusku 'lelaki'. Ada yang simpati hingga berkomentar,"Sabar jeng, ikhlaskan semua cobaan ini." Ada pula yang bernada protes,"Tak semua lelaki seperti yang mbak gambarkan." Dan, ada juga komentar yang menyalahkanku,"Baik buruknya lelaki bergantung andil perempuan."

Aku menghela nafas panjang. Status itu kutulis spontan setelah terinspirasi 'cobaan' seorang perempuan yang begitu sempurna di mataku. Sempurna berperan sebagai istri, ibu, anak, dan sahabat. Status itu luapan emosiku, teriakan protesku akan 'upah' kesetiaan, pengabdiaan dan pengorbanan seorang perempuan pada 'lelaki'. Kuakui, ada rasa marah, benci, dan dendam. Kuakui, jiwaku sakit. Dan, kuakui ingin mengingkari nasib perempuan yang hanya bisa 'nrimo' sembari terus berdoa utk bisa selalu ikhlas.

Seiring waktu berjalan, kutersadar ini semua adalah 'materi kuliah kehidupan'. Ilahi memberi semua cobaan agar manusia mau mengevaluasi diri, memahami diri dan orang lain serta tak lupa bermunajat agar dilindungi dari nafsu dan keserakahan. Aku pun sadar untuk terus belajar menguak secuil misteri tentang 'lelaki dan perempuan'. Misteri yang akan mengajarkan padaku untuk lebih.bijak dalam menilai dan menempatkan 'lelaki' sebagai makhluk sempurna pasangan perempuan.

(Jogja, 15 Maret 2014)

Lelaki
Pengkhianatan hanya dimaknai khilaf dan takdir
Permohonan maaf hanyalah hiasan di bibir
Kebohongan demi kebohongan antri terencana
Hati yang terluka tak menyentuh lubuk
Yang ada hanya keegoisan
Yang tercermin hanya pemuasan nafsu
Tebersit tanya
Apa yang kau cari 'lelaki'?
Berbagai dalih menghalalkan yang haram
Berbagai cara mengusir bayangan dosa
Ingatlah ada hari pembalasan
Kembalilah ke 'rumah' lelaki
Di sanalah takdir baikmu
Takdir bahagia bersama keluarga kecilmu

Friday, March 21, 2014

Rasa Cinta

Dia begitu merindukan kekasih yang terpisah jauh darinya. Dia menginginkan pelukan hangat di malam yang membuat kaku tubuhnya. Adakah rindu juga menjadi milik kekasih hatinya?

Aku terharu mendengar dia begitu menyanjung kekasihnya bagai malaikat. Oh, adakah kau tahu kekasihmu telah lama berubah? Ataukah kini dirimu pura-pura tak tahu untuk menghibur hatimu yang sakit? Sakit karena kecewa tak lagi memilikinya seperti dulu.

Rasa cinta benarlah misterius, terkadang memabukkan, terkadang sakit dan tak jarang sangat memuakkan. Duh, cinta mengapa dirimu senang berganti rasa? Apakah ini dikarenakan manusia adalah makhluk sempurna yang patut diuji kesempurnaannya?

Hmmm sebaiknya kucari cinta Ilahi saja ya kawan... agar tak menderita seperti dirinya dan menurunkan kadar cintaku pada kekasih hati.... Aman kan???

Thursday, March 20, 2014

PEMANTIK SEMANGAT

"Ma, ulangan Bahasa Indonesiaku dapat seratus. Adik semangat belajar lho... walau tidak ada Mama...., jadi semangat ya Ma... kalau Mama sayang kami."
Rasa haru seketika memicu derasnya air mataku. Dia tahu kondisiku yang terpenjara jenuh dan rindu. Kalimat itu kusimpan di file ingatan untuk selalu menjadi pemantik semangat. Semangat untuk segera menuntaskan tugas karena masih banyak tugas lain yang menantiku.
Thanks honey Tsaqillah Ali yang selalu ada untuk Mama.
Love u....

Sunday, March 9, 2014

TEGAR


Tangis dan tawa silih berganti dalam hitungan menit. Ekspresi wajah mulai terasa hambar. Dia begitu terlihat sakit. Bukan raga namun jiwanya.
Aku luluh dengan permintaannya. Dia tak ingin dikasihani. Dia ingin terus berjuang. Berjuang meraih kehidupan yang sebenarnya.
Awalnya kuragu dengan kemauan dan kemampuannya. Tetapi, banyak hal yang meyakinkanku. Dia kuat. Ada buah hati dan Allah yang selalu bersamanya.
Tetaplah tegar demi keyakinanmu. Tetaplah percaya akan definisimu tentang makna setia, mengabdi, dan berkorban
Tak akan ada yang sia-sia.